Pelatihan Instruktur Nasional Digelar Juni

oleh -1 views
Ilustrasi
Arrief Ramdhani
Ilustrasi
Ilustrasi

PASCA persoalan politis tentang Kurikulum 2013 di DPR selesai, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan fokus pada pelatihan instruktur nasional. Pelatihan juga akan diikuti pendampingan sehingga penerapan di lapangan maksimal.
”Setelah diputuskan kurikulum tetap jalan, sekarang disiapkan segala hal untuk menerapkannya. Pertengahan Juni, dimulai pelatihan untuk instruktur nasional,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh, seusai membuka seminar internasional ”Membangun Budaya Perdamaian Melalui Pendidikan Perdamaian di Indonesia” di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Jawa Tengah, Rabu (29/5).

Instruktur nasional itu nantinya akan melatih guru inti. Lalu, guru inti melatih guru-guru di sekolah-sekolah sasaran. Nuh mengatakan, pelaksanaan pelatihan yang akan berlangsung minggu kedua atau ketiga Juni itu tidak mendadak, tetapi sesuai dengan rencana awal.

Waktu pelatihan dipilih pertengahan Juni hingga awal Juli karena waktu itu bertepatan dengan liburan sekolah. ”Kalau tidak saat libur, tentu pelatihan ini akan sangat mengganggu proses belajar di sekolah. Apalagi, guru yang dilatih dalam satu sekolah pasti lebih dari satu orang, belum termasuk kepala sekolah,” ujar Nuh.

Pendampingan

Pelatihan yang berlangsung selama satu minggu tersebut, menurut Nuh, hanya merupakan pintu masuk bagi dimulainya Kurikulum 2013. Setelah kegiatan belajar berjalan, pada pertengahan semester, tetap akan diberi pendampingan.

Materi pelatihan tidak banyak berbeda dengan apa yang biasa dilakukan para guru saat mengajar. Hanya ada perubahan filosofi kurikulum yang harus diketahui para guru sehingga cara mengajar lebih komprehensif dan merangsang siswa untuk kreatif serta mengerti berbagai nilai yang baik.

Untuk itu, pada Kurikulum 2013 diterapkan mata pelajaran Budi Pekerti yang berdampingan dengan Pendidikan Agama. Kemuliaan yang ada dalam agama, kata Nuh, menjadi sumber inspirasi bagi perilaku sosial. Dengan demikian, agama menjadi fungsional, tidak hanya ritus antara manusia dan Tuhannya.

Secara terpisah, Kepala SMA Negeri 3 Semarang Bambang Nianto Mulyo mengatakan, pihak sekolah sejauh ini masih menunggu kebijakan lebih lanjut dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai penerapan Kurikulum 2013. Meski demikian, sekolah sudah berinisiatif mencari informasi mengenai kurikulum baru tersebut secara mandiri.

”Sepertinya tidak banyak perbedaannya. Saya dan guru-guru sudah siap untuk mengikuti pelatihan,” kata Bambang.(Edukasi.kompas.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.