Pelajar Garut Ngabuburit dengan Belajar Bahasa Asing

oleh -18 views
Ilustrasi (merdeka.com)
Arrief Ramdhani
Ilustrasi (merdeka.com)
Ilustrasi (merdeka.com)

PULUHAN pelajar dan mahasiswa Garut memilih menggunakan waktu luang saat Ramadan dengan belajar bahasa asing dan daerah dalam program “Ngagibah”. Sambil menunggu waktu berbuka puasa, mereka belajar bahasa dan budaya Rusia, Jerman, Inggris, Jepang, serta Sunda.

Program ini diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Garut (Himaga) Padjadjaran dengan nama unik, “Ngagibah”, atau singkatan dari Ngabuburit Ngabagi Ilmu Bahasa. Program ini mendapat respon positif dan akhirnya diikuti 57 mahasiswa dan pelajar Garut.

Project Officer Ngagibah, Muhammad Hanif, mengatakan ide membuat program ini muncul karena Himaga Padjadjaran ingin membuat klub bahasa dengan aktivitas yag berkelanjutan. Akhirnya, program ini dilaksanakan saat Ramadan dan mendapat respon positif.

“Tadinya kami perkirakan ada 15 orang yang daftar. Ternyata ada sampai 57 orang, dan makin banyak yang ingin daftar. 20 peserta belajar Bahasa Jerman, 8 orang ikut kelas Bahasa Rusia, 14 orang ikut kelas Bahasa Jepang, 13 orang di kelas Bahasa Inggris, dan sisanya Bahasa Sunda,” katanya, Senin (7/7).

Selain bahasa, diajarkan juga kebudayaan dan kesenian masing-masing negara asal bahasa yang diminati. Mentor atau pengajar berasal dari kalangan mahasiswa UPI Bandung, Unpad Bandung, STBA Bandung, dan STKIP Garut.

Selama Ramadan, masing-masing peserta harus mengikuti 10 kali pertemuan, termasuk acara pembukaan dan penutupan. Setiap pertemuan, para peserta mengikuti kelas selama 90 menit. Selain di tempat tertutup, rencananya kegiatan belajar bahasa asing digelar di tempat terbuka dan umum seperti Ngamplang dan Masjid Agung.

“Kegiatan Ngagibah ini sampai pertengahan Ramadan. Ditutup dengan pertunjukan kebudayaan dari masing-masing kelas bahasa. Daripada cuma nongkrong atau ngabuburit ngga jelas, lebih baik belajar bahasa,” katanya.

Seorang peserta kelas Bahasa Jerman dalam Ngagibah, Silvi (16), mengatakan program ini membantunya belajar Bahasa Jerman. Selama ini, Silvi baru mengenal sedikit Bahasa Jerman.

“Di sini bisa mengenal banyak teman baru dan belajar bahasanya menyenangkan. Apalagi saat libur di Ramadan ini, banyak waktu luang. Sayang kalau dipakai percuma,” katanya.

Dalam kelas permulaan, mereka belajar bahasa tingkat dasar, seperti huruf dan pengucapan, serta pengenalan diri dan penambahan pengetahuan mengenai kosakata bahasa asing. Pengajaran akan berlanjut ke tingkat yang lebih beragam.(jabar.tribunnews.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.