Pekan Cahaya Quran di Utama ,Lebih dari Sekadar Kajian

oleh -20 views
peserta Pekan Cahaya Quran di dari Kampus Universitas Widyatama (UTama).
Arrief Ramdhani
peserta Pekan Cahaya Quran di dari Kampus Universitas Widyatama (UTama).
peserta Pekan Cahaya Quran di dari Kampus Universitas Widyatama (UTama).

AJAKAN agar umat Islam lebih cinta Alquran dan menerapkan isi kandungannya ke dalam kehidupan sehari-hari, bergema dari Kampus Universitas Widyatama (UTama).

Ketika Yayasan Widyatama dan Paguyuban Abdi Triyasa menggelar Pekan Cahaya Quran 2 pada 13-16 Juli 2014, Gedung Serbaguna (GSG) UTama di Jalan Cikutra 204 A, Kota Bandung pun diubah jadi tempat taklim yang nyaman.

Lebih seratus peserta kajian dari berbagai latar belakang, seakan tak mau melewatkan forum ini. Selama tiga hari berturut-turut, mereka datang ke tempat ini sejak kajian dimulai jam 09.00 WIB hingga selesai menjelang azan zuhur. Ada yang datang sendiri, bersama suami maupun istri, atau kerabat.

Tentu saja antusiasme peserta Pekan Cahaya Quran ini tak lepas dari kemampuan tiga fasilitator, yaitu Muhamad Nurhadi (Cak Nur), Ustaz Syaiful Karim, Zulfikar La Ntoresano (Kang Ipay) dalam membawakan materi. Begitu pula peran Abu Marlo sebagai ketua pelaksana sekaligus pemandu kegiatan ini.

“Melalui kegiatan ini kami ingin membumikan Alquran. Tidak hanya familiar dibaca, tapi kandungan di dalamnya diterapakan menjadi life style dalam keseharian. Makanya para fasilitator membawakan materi ini dalam bahasa sederhana yang mudah dipahami,” jelas Abu Marlo, pekan lalu.

Pria yang dikenal sebagai magician ini menambahkan, pelaksanaan Pekan Cahaya Quran 2 dirangkai bersinergi dengan program bakti sosial UTama. Di antaranya pengobatan gratis kepada 400 warga miskin serta pembagian paket sembako, serta konsultasi gratis bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Art Therapy Center (ATC) Widyatama.

Ketua Seksi Kerohanian UTama Judiestiaty Ontowiryo menjelaskan, Pekan Cahaya Quran termasuk salah satu program pembinaan rohani yang terbuka bagi warga kampus maupun peserta umum.

Pelaksanaan program ini sejalan cita-cita Pemrakarsa dan Pendiri UTama, Almarhumah Prof Dr Hj Koesbandijah Abdoel Kadir MS Ak.

“Kami memang bukan universitas Islam. Tapi sesuai cita-cita beliau, lembaga pendidikan ini harus bisa menjadi tempat orang menuntut ilmu duania dan akhirat. Sehingga mereka bisa mencetak insan kamil, berguna bagi bangsa dan negara,” ujar wanita yang akrab disapa Isye Judies ini.

Program pembinaan kerohanian, tak hanya berlaku bagi warga kampus yang beragama Islam tapi juga nonmuslim. UTama memiliki ruang khusus untuk berbagai kajian maupun kegiatan kerohanian.

“Kajian tentang Islam dilakukan rutin Sabtu pekan pertama setiap bulan. Ini pun terbuka untuk umum. Sedangkan kajian agama lain ada jadwal tersendiri,” jelasnya. (inilahkoran.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.