Pandemi, Proses Rekrutmen Guru ASN P3K Tetap Berjalan

oleh -2 views
Ilustrasi

Masa pandemi Covid-19 tidak menjadi halangan untuk terus beraktivitas, termasuk menjalankan proses rekrutmen guru ASN PPPK. Sebagai upaya peningkatan kapasitas dan kesejahteraan pendidik dan menciptakan pendidikan yang berkualitas, Kemendikbudristek berencana menyelenggarakan seleksi kompetensi calon guru Aparatur Sipil Negara (ASN) Pegawai Pemerintahan dengan Perjanjian Kerja (P3K).

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbudristek, Iwan Syahril mendukung penyelenggaraan seleksi guru ASN P3K dengan mengutamakan aspek kesehatan dan keselamatan. Hal ini diwujudkan dengan menggandeng kementerian dan lembaga terkait untuk menyosialisasikan dukungan kesehatan dalam proses seleksi ASN PPPK tahun 2021.

“Masa depan generasi penerus bangsa terletak di pundak guru maka seleksi guru ASN PPPK yang akan diselenggarakan harus mengutamakan kesehatan dan keselamatan,” diucapkan Dirjen GTK secara daring di Jakarta pada Kamis (9/9).

Pandemi Covid-19 yang masih terjadi di seluruh penjuru dunia menjadikan kesehatan sebagai fokus utama semua pihak. Penerapan 3M terus digiatkan guna menanggulangi dan mencegah terjadinya penularan.

Adapun upaya yang dapat dilakukan ialah dengan menerapkan 3M, yaitu; memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun. Selain itu juga menerapkan 3T, yaitu; pemeriksaan dini (testing), pelacakan (tracing), dan perawatan (treatment).

Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat (Dirjen Dikmas), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kartini Rustandi menyampaikan bahwa penanganan pandemi bertujuan untuk menurunkan kurva agar orang-orang yang terdampak dapat tertangani secara baik. Upaya dan strategi yang dilakukan yaitu dengan mendeteksi orang-orang yang terkena Covid-19 dan memisahkan mereka dengan orang-orang yang sehat.

Tidak hanya itu, Dirjen Dikmas juga mengimbau agar masyarakat melakukan vaksinasi, serta mengubah pola hidup menjadi lebih sehat. “Satu hal yang bisa dipahami tentang Covid ini yang menjadikan pertanyaan banyak orang, mengapa kita tidak boleh bergerak atau mengurangi mobilitas karena pada prinsipnya virus itu tidak akan berpindah, kalau bukan karena pergerakan orangnya yang memindahkan virusnya. Perpindahan terjadi karena adanya interaksi antar manusia, adanya kerumunan dan adanya kontak fisik. Inilah yang meningkatkan risiko penularan atau kontaminasi,” ungkapnya.