Pakar: Banyak Eksperimen Fisika di SMA yang Keliru

Thursday 28 November 2019 , 8:02 AM

Ilustrasi (news.okezone.com)

MESKIPUN  sejumlah Sekolah Menengah Atas (SMA) sudah menerapkan pembelajaran fisika eksperimen, kenyataannya masih banyak para siswa yang keliru saat melakukan eksperimen karena masih banyak pemahaman konsep eksperimen yang belum benar.

“Ini tidak hanya terjadi pada para siswa yang melanjutkan kuliah di perguruan tinggi, tapi juga pada siswa peserta Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang masih banyak melakukan kesalahan karena konsep yang keliru tentang fisika eksperimen,” ujar Dr Syamsu Rosid, Pembina osn bidang Fisika Tingkat Nasional saat memaparkan hasil temuannya di Kampus ui Depok, Rabu (27/11).

Dia menambahkan, bahkan berdasarkan pengamatan di sejumlah kota di Indonesia seperti Jakarta, Depok, Bekasi, Serang, Gorontalo dan Manado menemukan masih banyak guru fisika yang belum paham bahwa permasalahan fisika eksperimen dapat diselesaikan melalui pendekatan linier regresion.

“Mereka mayoritas bahkan belum bisa membedakan mana variabel bebas mana variabel terikat serta mana parameter yang harus menjadi x dan y dalam proses regresi linier,” terang Rosid.

Lanjut Rosid, bahwa banyak guru fisika yang masih salah dalam menarik garis lurus atas data-data pengamatan atau pengukuran yang telah dilakukannya. “Fisika eksperimen adalah saudara kembar atau pasangannya fisika teori. Keduanya sesungguhnya saling membutuhkan”, tambah dosen Fisika UI ini.

Sejumlah guru mengaku lebih percaya diri setelah mengikuti seminar fisika eksperimen yang digelar program “UI untuk Negeri” di sejumlah kota sepanjang 2019.

“Respon dari para guru cukup menyambut. Bahkan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) provinsi DKI Jakarta berniat segera menyelenggarakan workshop khusus fisika ekperimen karena itu meningkatkan kepercayaan diri para guru,” tutur Martini, salah satu pembina OSN Provinsi DKI Jakarta yang baru saja purna tugas mengajar di SMA 76 Jakarta.

Selain itu, Fahrurozi Panjaitan ketua tim OSN Sumatera Utara juga mengungkapkan hal senada. “Kelemahan siswa di kompetisi naional itu di soal-soal praktek, kami merasa masih sangat kurang pembelajaran di fisika eksperimen. Terlalu banyak hanya di teori,” ungkap Fahrurozi.

Ia juga menekankan bahwa lebih prioritas lagi adalah melatih para guru. “Guru-guru perlu dilatih lebih lama lagi dalam bidang eksperimen fisika. kalau perlu diadakan workshop biar bisa lebih dalam interaksinya”, tambah Fahrurozi.

Sementara itu di jalur pendidikan madrasah, pembelajaran sains juga makin mendapatkan respon positif. “Tahun ini peserta seminar tentang sains khususnya fisika eksperimen naik menjadi 400 perwakilan. Padahal tahun sebelumnya hanya 300 perwakilan,” ungkap Masyhudi, Kepala Seksi Kesiswaan Madrasah Kementerian Agama provinsi Banten.

Masyhudi juga menambahkan bahwa saat ini memang sedang “booming” perwakilan madrasah berkompetisi di ajang Kompetisi Sains Madrasah atau KSM. Setiap madrasah ingin menunjukan kualitasnya untuk menjadi yang terbaik.

“Alhamdulillah saat ini Provinsi Banten menduduki prosisi tiga besar di KSM tingkat nasional. Kami juga masih menyusun strategi pembinaan agar bisa menjadi yang terbaik di level nasional,” pungkas Masyhudi yang juga menjabat sebagai ketua umum Dewan Pengurus Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI) Wilayah Provinsi Banten.(republika.co.id)

 

Comments are closed.