Ngamumule Bahasa Sunda Lewat Pagelaran Drama Musikal Religi

oleh -61 views
Ngamumule Bahasa Sunda Lewat Pagelaran Drama Musikal Religi.(pikiran-rakyat.com)
Arrief Ramdhani
Ngamumule Bahasa Sunda Lewat Pagelaran Drama Musikal Religi.(pikiran-rakyat.com)
Ngamumule Bahasa Sunda Lewat Pagelaran Drama Musikal Religi.(pikiran-rakyat.com)

SENI teater ataupun drama merupakan sarana paling efektif untuk melestarikan dan mengembangkan bahasa Sunda kepada generasi muda. Selain diperkenalkan pada berbagai kesenian pendukung, para pemain maupun penonton secara langsung dipaksa untuk mengucapkan, mendengarkan dan mengerti setiap rangkaian dialog dalam pagelaran.

“Kesenian drama atau teater, hingga saat ini masih dianggap ataupun dipandang sebagai alat atau sarana paling efektif untuk melestarikan dan mengembangkan bahasa daerah yang dalam hal ini bahasa Sunda. Karenanya dalam kesempatan mempegelarkan Drama Musikal Basa Sunda Religi, “Kasidah Cinta Al-Faruq”, audiensi dari kalangan anak SMP dan SMK menjadi sasaran utama,” ujar Kepala UPT Padepokan Seni Mayang Sunda, Dra. Sri Susiagawati.

Tidak sia-sia, Drama Musikal Basa Sunda Religi, “Kasidah Cinta Al-Faruq” karya dramawan Rosyid E. Abby bersama Kelompok Teater Senapati, bertempat di Auditorium Padepokan Seni Mayang Sunda, mendapat sambutan sangat luar biasa. Selain pegelaran disaksikan oleh 500 orang lebih penonton, pegelaran yang direncanakan berlangsung sekali akhirnya menjadi dua kali penampilan.

“Kita sangat merespon apresiasi yang diberikan anak-anak sekolah yang sudah jauh-jauh datang untuk menyaksikan pegelaran. Karenanya begitu pada pegelaran pertama tidak tertampung, maka kami sepakati untuk melakukan pegelaran kembali setelah 30 menit rehat,” ujar Rosyid E. Abby tentang penonton yang datang dari sejumlah SMP dan SMA di Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi.

Drama Musikal Basa Sunda Religi, “Kasidah Cinta Al-Faruq” berceritakan tentang hijrahnya Umar bin Khattab dari agama sebelumnya ke agama Islam. Meski dipenuh dengan intrik dan konplik, karena disuguhkan dalam bahasa Sunda yang lugas dan mudah dimengerti, pegelaran berlangsung sangat komunikatif dan penonton dipaksa untuk terus tertawa baik karena adegan yang dianggap lucu, atau karena istilah bahasa Sunda yang menurut mereka unik.

Pegelaran Drama Musikal Religi yang dibawakan Kelompok Teater Senapatiberlangsu dua kali, berjudul “Kasidah Cinta Al-Faruq”. Pegelaran merupakan bagian dari upaya pelestarian seni teater dan jugapelestarian bahasa daerah (Sunda), sekaligus dalam rangka menyambutbulan Syawal 1435 H.

Pada gebrakan awal drama musikal religi Sunda “Kasidah Cinta Jalma Nu Ariman (2006), mampu menarik perhatian tidak hanya rekan sesama pelakudrama, tetapi juga anak-anak sekolah yang mengapresiasi jumlahnyamencapai 2.000 orang. Berbekal keberhasilan tersebut, pada tahun berikutnya (2007) digelar drama musikal religi Sunda Kasidah Cinta episode dua dengan cerita,”Kasidah Cinta Sang Muadzin” (2007), seterusnya, ”Kasidah Cinta Sang Singa Allah” (2008), ”Kasidah Cinta Sang Sahabat” (2009), “Kasidah Cinta Sang Abid” (2010), “Kasidah Cinta di Palagan Karbala” (2011), dan“Kasidah Cinta Al-Kubro” (2012). Sebuah perjuangan syiar Islam yangterus ditekuni dan dilakoni Rosyid E. Abby bersama kelompok teaternya Senapati, lewat dunia panggung. (pikiran-rakyat.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.