MOS, Sekolah Harus Hapus Unsur Kekerasan

oleh -2 views
Ilustrasi.Masa Orientasi Siswa (republika.co.id)
Arrief Ramdhani
Ilustrasi.Masa Orientasi Siswa (republika.co.id)
Ilustrasi.Masa Orientasi Siswa (republika.co.id)

SETIAP tahun ajaran, siswa baru pada tiap jenjang pendidikan akan mengikuti masa orientasi siswa (MOS). Selama tiga hingga lima hari, siswa baru akan dikenalkan kepada lingkungan sekolah dan kegiatan akademiknya. 

Menurut Kepala Pusat Informasi dan Humas (PIH) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Ibnu Hamad, sekolah sebaiknya mengisi MOS dengan kegiatan edukatif. Kepala sekolah pun harus memahami betul jadwal MOS di sekolahnya.

Bahkan, sekolah harus menunjuk penanggung jawab yang bertugas mengawasi pelaksanaan MOS secara keseluruhan. Penangung jawab ini bisa jadi kepala sekolah sendiri maupun guru lain. Di antara wewenang sang penanggung jawab MOS adalah menghapus jadwal yang dirasa tidak layak atau mengandung unsur kekerasan.

“Misal kalau upacara, jangan tengah hari, kasihan anak-anak yang berpuasa kepanasan,” kata Ibnu, seperti dikutip dari laman Kemendikbud, Kamis (10/7/2014).

Ibnu menilai, pengawasan yang ketat akan meminimalisasi penyimpangan dalam MOS. Untuk memastikan hal ini, si penanggung jawab harus selalu ada di lokasi MOS sejak dimulai hingga selesai.

“Penanggungjawab tidak boleh berlepas diri. Ketika jadi penanggungjawab, harus betul-betul mengawasi,” imbuhnya.

Guru besar dalam bidang ilmu komunikasi itu mengimbuhkan, sejak jauh hari, Kemendikbud pun telah mengirimkan surat edaran terkait pelaksanaan MOS kepada seluruh dinas pendidikan kabupaten/kota. Dalam surat yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah tersebut disebutkan beberapa kegiatan yang bisa dilakukan sekolah pada MOS yang bertepatan dengan bulan Ramadan ini.

“Misalnya diskusi atau ceramah Ramadan; proses pembelajaran yang berorientasi pada nasionalisme, budi pekerti, dan pendidikan karakter; Masa Orientasi Peserta Didik khusus siswa kelas satu, tujuh, dan sepuluh; serta pengecekan kesiapan guru dan buku untuk memastikan pelaksanaan Kurikulum 2013 dapat berjalan dengan baik,” tuturnya.(kampus.okezone.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.