Mol, Pupuk Organik Buatan Siswa SMPN 1 Sariwangi

oleh -59 views
Siswa sedang memerlihatkan produk buatannya. (Asop Ahmad/Siap Belajar)
Arrief Ramdhani
Siswa sedang memerlihatkan produk buatannya. (Asop Ahmad/Siap Belajar)
Siswa sedang memerlihatkan produk buatannya. (Asop Ahmad/Siap Belajar)

BERAWAL dari kepedulian terhadap lingkungan sekolah, ternyata bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Para siswa SMPN 1 Sariwangi yang tergabung dalam Komunitas Lingkungan Alam Sekolah Hijrah Edukatif (Kolase), berhasil membuat pupuk cair dari sampah organik.

Nama pupuknya Mol. Entah kenapa diberi nama itu. Walau belum ada pengujian laboratorium, pupuk tersebut terbukti dapat menyuburkan tanaman yang ada di sekolah. Bahan dari hasil pemilahan sampah katagori organik dikumpulkan siswa selama satu minggu di tempat khusus yang berada di belakang sekolah.

Setiap Sabtu, sesudah belajar di kelas, tim kecil dari komunitas tersebut bergiliran membuat pupuk. Sampah organik dicampur dengan sayur atau buah-buahan busuk yang mereka beli dari pasar, ditambah air kelapa, air gula merah, dan air beras.

Setelah itu hasil rendaman disimpan selama tiga hari. Biasanya media yang sering dipakai adalah ember dan botol bekas air mineral. Terkadang  tiga ember ukuran sedang dan lima botol produk dihasilkan siswa setiap minggunya. Tergantung dari volume sampah yang tersedia.

Menurut Rifania (15), siswa kelas IX A, dan Aliza Fatma (14) siswa kelas IX C, Mol baru dipakai pada tanaman hias yang ada di lingkungan sekolah. Hasilnya cukup membanggakan. Uji coba terus dilakukan pada tanaman yang menghasilkan buah. “Kami akan terus berupaya agar karya ini dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas,” ujar Aliza.

Dindin Supriadin, S.Pd, wakasek Kurikulum, menjelaskan, sekolah terus membantu, memfasilitasi, serta memantau kegiatan anak didiknya, termasuk dalam membuat pupuk itu. “Baru uji coba saja pihak sekolah sudah diuntungkan. Dengan adanya Mol, kami tidak harus repot-repot membeli pupuk,” kata Dindin.

Saat ditanya apakah pupuk hasil karya anak didiknya itu kelak akan dijual ke pasaran, Dindin mengaku harapan ke situ ada. “Rencananya setelah pengujian di lingkungan sekolah selesai, Mol akan diberikan cuma-Cuma kepada orangtua siswa yang pekerjaanya bertani. Tahap pengujian akan terus kami lakukan sampai produk ini bisa diterima masyarakat,” tuturnya. (Asop Ahmad/Siap Belajar)