Minimalikan kekerasan, orangtua perlu beri kemampuan sosial

oleh -1 views
Ilusatrasi (antaranews.com)
Arrief Ramdhani
Domentasi aktivis kemanusian komunitas Awak Droe Only (ADO) melakukan teaterika pada aksi keprihatinan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak, di Banda Aceh, Aceh, Senin (5/10). Pada aksi keprihatinan dan darurat kekerasan serta pelecehan seksual terhadap di Aceh itu para aktivis kemanusian meminta lembaga penegak hukum untuk menghukum pelaku seberat-beratnya dan mengharapkan peran orang tua meningkatkan pengawasan terhadap anak. (antaranews.com)
Domentasi aktivis kemanusian komunitas Awak Droe Only (ADO) melakukan teaterika pada aksi keprihatinan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak, di Banda Aceh, Aceh, Senin (5/10). Pada aksi keprihatinan dan darurat kekerasan serta pelecehan seksual terhadap di Aceh itu para aktivis kemanusian meminta lembaga penegak hukum untuk menghukum pelaku seberat-beratnya dan mengharapkan peran orang tua meningkatkan pengawasan terhadap anak. (antaranews.com)

ORANGTUA perlu menanamkan kemandirian dan melatih kemampuan sosial anak untuk meminimalisir dirinya menjadi korban kekerasan baik di dalam maupun luar rumah, kata psikolog anak Ratih Zulhaqqi.
“Anak dengan kemampuan sosial yang bagus punya alternatif pemecahan masalah,” kata dia, kepada www.antaranews.com, di Jakarta, Jumat.

Anak perlu dibekali mekanisme pertahanan diri yang baik, bukan berupa bela diri melainkan kemampuan anak dalam menghadapi situasi yang tidak nyaman atau berbahaya.

banner 728x90

Misalnya, saat di sekolah, ada teman yang memaksa meminta pensil miliknya. Ada kalanya anak tidak paham dirinya menjadi korban bully karena menganggap hanya pensil.

Anak perlu diajari untuk berani berkata “saya tidak punya pensil lagi” untuk menghindari dia menjadi korban bully.

Menurut Zuhaqqi, kemampuan itu tidak dapat segera terbentuk sehingga perlu dilatih orangtua.

“Beri kesempatan anak untuk jadi lebih asertif. Dengarkan dia bercerita, jangan langsung dipotong.” Ada kalanya orang tua merasa lelah setelah seharian beraktivitas ketika anak ingin bercerita. Menurut dia, konsekuensi menjadi orangtua adalah harus memiliki waktu untuk anak dalam situasi apa pun.

“Cukup 15 menit, bisa mewakili kedekatan secara emosional.” Ketika anak bercerita, berika respon dengan menanggapi omongannya, jangan hanya sekedar mendengarkan namun pikiran tertuju pada hal lain, misalnya sambil membalas pesan singkat.

Selain orangtua, guru di sekolah pun juga berperan dalam mencegah kekerasan dengan memantau apa yang dilakukan anak.

Bila terjadi konflik, bimbing mereka untuk menyelesaikannya, menghindari konflik justru dapat memperbesar masalah.

Sekolah juga dapat mendatangkan narasumber dari luar lingkungannya untuk berbagi pengalaman tentang kekerasan pada anak.(antaranews.com)