Mereka yang Berprestasi dalam Keterbatasan

oleh -5 views

Stigma negatif yang kerap ditujukan kepada penyandang disabilitas, tidak selalui identik dengan kekurangan atau berbagai hal yang tidak menyenangkan. Faktanya, keterbatasan yang dimiliki penyandang disabilitas tidak mencegah mereka untuk berprestasi dan bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Untuk itu, pada peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) tahun 2021, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Pusat Prestasi Nasional menggelar Bincang Prestasi dengan menghadirkan para penyandang disabilitas yang berprestasi dan bahkan sukses sebagai seorang pengusaha dengan mengangkat tema ‘Kreativitas Tanpa Batas untuk Indonesia Tangguh’.

Mereka adalah Atikah Fina Wulandari, seorang penampil terbaik tunanetra Ajang Kreasi dan Apresiasi-Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (AKA-PDBK) Hari Disabilitas Internasional (HDI) tahun 2020, Kezia Karuniawati, penampil terbaik tunadaksa AKA-PDBK HDI 2020, dan Fanny Evrita Rotua Ritonga, seorang pengusaha dan pendiri Thisable Beauty Care yang sekaligus sebagai tim Staf Khusus Presiden Bidang Inklusi Ketenagakerjaan.

PERKEMBANGAN VIRUS CORONA

Berita Selengkapnya

“Kita menyadari bahwa mempunyai keterbatasan yang dimiliki penyandang disabilitas bukan berarti tidak bisa berkarya. Karena, dibalik keterbatasan, tentu ada potensi yang luar biasa. Mereka bisa menjadi penerus bangsa dan negara bahkan meningkatkan martabat bangsa Indonesia. Kami harap role model yang dihadirkan di sini, dapat mendorong adik-adik semua untuk ikut berpartisipasi dan berprestasi,” terang pelaksana tugas (plt.) Kepala Pusat Prestasi Nasional, Asep Sukmayadi saat membuka acara secara daring, pada Sabtu (4/12).

Pada segmen pertama, Atikah dan Kezia menceritakan bagaimana mereka bisa berprestasi di tengah keterbatasan yang dimiliki. Atikah menuturkan, sejak umur tiga tahun, ia sudah senang bermain alat musik piano meskipun hanya piano mainan.

Namun ketertarikannya itu, membuat ia terus menggali potensi yang dimilikinya dengan cara terus belajar, berlatih agar menguasai musik yang sudah diminatinya itu. “Waktu umur 8 tahun, akhirnya saya kursus main piano meskipun kendalanya tidak bisa melihat tapi gurunya dengan sangat baik memberikan saya latihan dan latihan,” ucap Atikah.

Hingga akhirnya, siswi kelas 10 di SLB Negeri Citeureup Kota Cimahi ini berhasil meraih menjadi penampil terbaik pada AKA-PDBK HDI tahun 2020. “Yang penting kita sudah niat, kemudian niat itu di ekplorasi dan belajar untuk mencapai niat itu. Karena kalau kita sudah suka dengan sesuatu, kita gali terus hingga apa yang kita impikan tercapai,” ujar Atikah.

Pada peringatan HDI tahun 2021 ini, Atikah berpesan kepada sesama penyandang disabilitas untuk tetap berkarya meskipun karyanya kecil. “Jangan takut untuk berkarya meskipun karyanya kecil sekali. Sekecil-kecilnya karya apapun, semakin kita mengasah, pasti akan semakin bagus seperti pisau,” tutur Atikah.

Senada dengan itu, Kezia, siswa kelas 10 penyandang disabilitas tunadaksa ini terus berlatih dan berlatih untuk menjadi seorang perenang hingga menjadi seorang penampil terbaik pada AKA-PDBK tahun 2020. “Saya pagi belajar, siangnya sampai malam latihan renang. Selama proses itu, saya nikmati saja karena saya yakin hasilnya akan luar biasa,” tutur Kezia.

Kepada sesama penyandang disabilitas, Kezia juga berpesan untuk tetap semangat meski di tengah keterbatasan. “Tetap semangat, jangan menyerah, jangan malas, jangan putus asa, dan jangan mengeluh dengan keaaan, tetap semangat dan berdoa,” ucap Kezia.

Sementara itu, pada segmen kedua, Fanny Evrita Rotua Ritonga wanita Pontianak dengan keterbatasannya sebagai penyandang tunadaksa tidak menyurutkan semangatnya membangun ThisAble Beauty Care demi membantu teman-teman difabel lain. Dengan membangun bisnis sosial ini, Fanny ingin menciptakan lapangan pekerjaan khususnya bagi para penyandang disabilitas. “Cari kerja untuk diri sendiri itu sudah biasa, tapi menciptakan lapangan kerja untuk kaum difabel melalui bisnis sosial, itu prestasi” ucap Fanny.

Fanny percaya banyak hal besar yang bisa dilakukan dengan menjadi wirausahawan sosial. “Jika bekerja di kantor, gaji yang didapatkan hanya untuk diri sendiri, namun dengan membangun bisnis sosial Fanny bisa menciptakan pekerjaan dan berbagi rejeki dengan teman-teman difabel lain,” tutur Fanny.

Fanny berpandangan, saat ini masih banyak penyandang disabilitas yang masih perlu didukung untuk menyadari potensinya. “Setiap orang terlahir dengan kemampuan uniknya masing-masing, tidak terkecuali teman-teman difabel. Sayangnya tidak semua orang menyadari hal tersebut,” ungkap Fanny.

Untuk itu, Fanny siap berbicara satu-persatu dengan banyak difabel lain agar terdorong untuk memulai mengembangkan setiap potensi yang mereka miliki. “Jangan biarkan kekurangan yang kamu miliki membuatmu berhenti berkarya dan berjuang. Setiap orang berhak untuk memaksimalkan potensi dirinya. Fokus kepada passion kamu, dan jangan biarkan keterbatasan atau tantangan menjadi hambatan,” ucap Fanny.