Mengubah Karakter Bangsa Lewat Mendongeng

oleh -2 views
Ilustrasi
Arrief Ramdhani
Ilustrasi
Ilustrasi

DEWASA ini aksi kekerasan oleh dan terhadap anak-anak banyak dijumpai dimana-mana. Terakhir, peristiwa yang terjadi di sebuah SD di Bukittinggi kembali membuka mata masyarakat terhadap pergeseran perilaku para generasi penerus bangsa tersebut.
Orang tua tak bisa dipungkiri turut andil terhadap berbagai kasus kekerasan tersebut. Orang tua zaman sekarang dianggap tidak mampu mendidik anak-anaknya seperti yang dilakukan para orang tua era dahulu.

Salah satunya untuk menghentikan kasus-kasus seperti itu, baru-baru ini Forum Pemuda Pelopor menggelar Gerakan Nasional Indonesia Mendongeng. Tujuan gerakan tersebut adalah mengembalikan budaya dongeng sebagai sarana menyampaikan pesan moral kepada anak-anak.

“Dengan mendongeng kita bisa memasukkan budi pekerti dengan mudah, karena itu adalah satu cara mengajar anak-anak tanpa memaksa. Semoga dengan adanya Gerakan Nasional Indonesia Mendongeng akan terjadi perubahan karakter bangsa menjadi lebih baik, ” ujar Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional (DPN) Forum Pemuda Pelopor, Rita Widyawati, dalam konferensi pers di Jakarta pertengahan pekan lalu.

Ketua Harian DPN Forum Pemuda Pelopor, Bagus Haryanto, mengatakan saat ini tradisi mendongeng telah banyak ditinggalkan para orang tua akibat terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Akibatnya, anak-anak menjadi lebih dekat dengan televisi, gadget, atau permainan online di internet yang semakin menjauhkan mereka dari masyarakat.

“Terjadinya kekerasan seperti yang menimpa siswi SD di Bukittinggi salah satunya dikarenakan pengaruh tayangan kekerasan di televisi atau permainan online yang menampilkan kekerasan. Anak-anak harus diselamatkan dari pengaruh buruk tersebut dan dongeng adalah salah satu cara yang bisa dipakai,” ujar Bagus.

Orang tua nantinya menjadi salah satu target sasaran Gerakan Nasional Indonesia Mendongeng. Pada bulan November mendatang, pihak penyelenggara yang bekerja sama dengan Forum Pemuda Pelopor akan mulai mengadakan audisi ke daerah-daerah untuk mencari pendongeng bertalenta yang berusia 17-40 tahun.

Di setiap daerah akan diambil sebanyak dua orang sehingga nantinya terdapat 68 perwakilan dari 34 provinsi. Dari 68 orang kemudian akan diseleksi lagi menjadi 24 orang untuk mengikuti audisi nasional pada sebuah stasiun televisi swasta pada bulan April tahun depan.

Rencananya, acara audisi tersebut akan dikemas mirip seperti tayangan Indonesian Idol dan Indonesia Mencari Bakat (IMB). Nantinya satu pemenang akan dinobatkan sebagai Raja/Ratu Dongeng.

Seto Mulyadi, atau yang biasa dipanggil Kak Seto, mengapresiasi gerakan tersebut serta mengajak masyarakat untuk mendukungnya. Menurutnya, mendongeng adalah seni tutur yang sangat mendidik yang bisa menggantikan tayangan televisi yang kini hanya memiliki siaran pendidikan di bawah satu persen.

“Kami ingin memelopori agar kasus-kasus kekerasan anak bisa dihentikan. Mari kita mendukung gerakan ini. Kami akan bergerak ke daerah-daerah untuk mengampanyekan gerakan ini. Kami juga akan mengajak presiden, menteri, dan pejabat-pejabat daerah untuk menjadi ikon. Semoga wajah Indonesia di masa depan bisa lebih damai,” ujar ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) itu.

Sementara itu, raja dongeng Kusumo Priyono mengatakan Gerakan Nasional Indonesia Mendongeng adalah sebuah sejarah di era pemerintahan baru yang diharapkan bisa membangkitkan lagi budaya mendongeng yang kian luntur. “Diharapkan dengan adanya gerakan ini kita tidak lagi terkecoh dengan tontonan-tontonan televisi yang tidak ada mutunya,” ujar pria yang akrab dipanggil Kak Kusumo itu.(republika.co.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.