Mengajar SMK? Lakukanlah Enam Langkah

Saturday 07 June 2014 , 5:26 AM
Ilustrasi

Ilustrasi

MODEL Teaching Factory Enam Langkah (TF-6M) efektif meningkatkan kompetensi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), baik kompetensi kognitif maupun kompetensi vokasional dalam mata pelajaran produktif. Enam langkah dalam satu siklus kerja tersebut terdiri atas (1) Menerima pemberian order; (2) Menganalisis order; (3) Menyatakan kesiapan mengerjakan order; (4) Mengerjakan order; (5) Melakukan quality control; (5) Dan menyerahkan order.

“Model TF-6M terdiri atas dua kelompok kegiatan, softskill dan hardskill. Dengan kegiatan softskill dan hardskill diharapkan terkembangkan potensi siswa dalam bentuk kecakapan personal, sosial, akademik dan vokasional yang terpadu pada siklus pembelajaran,” kata Ketua Program Studi Pendidikan Teknologi Kejuruan (Prodi PTK) Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (SPs UPI) Dr. H. Dadang Hidayat Martawijaya, M.Pd. di Kampus UPI, Jln. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Jumat (6/6/2014).

Menurut dia, ada tiga unsur yang terlibat dalam proses pembelajaran. Yaitu: (1) Siswa yang memerankan sebagai pekerja; (2) Guru yang berperan sebagai asesor, konsultan, fasilitator dan sekaligus sebagai penanggung jawab keseluruhan program pembelajaran; dan (3) Pemberi/pemilik order baik dari industri, dari perseorangan atau dari sekolah sendiri.

Ada beberapa hal harus dilakukan agar Model TF-6M dapat diimplementasi dengan baik, kata dia. (1) Guru dan siswa harus sepakat tentang perubahan manajemen sekolah menjadi manajemen industri, (2) Kepala sekolah harus mendukung kebijakan ini; (3) Sekolah harus melengkapi sarana praktik yang terstandar; Dan (4) proses TF6M ini harus dilaksanakan dalam blok waktu yang cukup.

“Dengan persyaratan tersebut Model TF-6M memungkinkan diimplementasikan dengan baik sehingga dapat memberi siswa pengalaman langsung suasana industri di sekolah. Model ini sekaligus membentuk jiwa dan kemampuan kompetensi siswa sebagai pekerja industri. Bahkan, model ini dapat mengembangkan secara terpadu kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan akademik, dan kecakapan vokasional,” ujar Dadang Hidayat.

Model TF-6M juga meningkatkan motivasi berprestasi dan prestasi siswa, rasa tanggung jawab dan etos kerja, kata Dadang selanjutnya. Model ini sekaligus merupakan pelaksanaan praktik kerja industri (Prakerin) yang dapat dipadukan dengan sistem uji kompetensi.

Agar Model TF-6M berhasil secara optimal, kata Dadang, perlu dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, guru mata pelajaran produktif menggunakan model ini sebagai salah satu model pembelajaran alternatif untuk mata pelajaran yang bersifat memberi layanan jasa atau memproduksi barang jadi.

Kepala sekolah, kata dia, dapat melakukan rekognisi yang memungkinkan pengimplementasian Model TF-6M dengan: 1) mendayagunakan guru profesional menciptakan iklim industri di sekolah dengan memosisikan siswa sebagai teknisi junior; memanfaatkan sarana fasilitas praktik agar sebanyak-banyaknya siswa mendapat pengalaman dan mencapai standar kompetensi; 2) Mendayagunakan guru profesional untuk menciptakan order yang dapat dikerjakan siswa dan laku jual.

Kepala sekolah juga harus mendorong guru mata pelajaran produktif untuk mengembangkan kecakapan personal dan sosial siswa di samping kecakapan akademik dan vokasional. Karena, kecakapan tersebut ternyata dapat membangkitkan motivasi, rasa tanggung jawab dan etos kerja. Model TF-6M yang diimplementasikan dengan baik dapat dijadikan pengganti prakerin.(berita.upi.edu)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.