Mendikbud: Sekolah dan Masyarakat Harus Jadi Pelindung

oleh -1 views
Mendikbud Mohammad Nuh
Arrief Ramdhani
Mendikbud Mohammad Nuh
Mendikbud Mohammad Nuh

MASALAH kekerasan pada anak yang kerap muncul belakangan ini menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan. Tak hanya pendidikan yang berlangsung di sekolah, pendidikan di masyarakat juga mengambil peran untuk mencegah terulangnya kasus-kasus kekerasan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengatakan, anak-anak sangat rawan menjadi korban kejahatan. Untuk itu, Mendikbud mengimbau agar pihak sekolah memastikan tidak terjadi penyimpangan di lingkungan sekolah. “Sekolah harus bisa melindungi, dan jadi rumah kedua bagi anak-anak,” kata Mendikbud usai sidak pelaksanaan ujian nasional jenjang SMP, di Kepulauan Seribu, Senin (05/05/2014).

Mendikbud menambahkan, kejadian kekerasan pada anak juga banyak terjadi di luar sekolah. Masyarakat, kata dia, seharusnya juga memberi perlindungan pada anak dari perilaku kekerasan. Karena ketika di luar sekolah, anak-anak juga berinteraksi dengan masyarakat.

Pelaku kekerasan pada anak bisa jadi salah satu dari tiga unsur ini, mulai dari pendidik dan tenaga kependidikan, sesama siswa, atau masyarakat di luar sekolah. Ketiga-tiganya harus dipantau dan diwaspadai.

Mendikbud mengatakan, untuk urusan akses ke dunia pendidikan pada umumnya sudah terpenuhi. Namun untuk kualitas, ada tiga ranah kompetensi yang ditingkatkan, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Dari ketiganya, kata dia, yang paling berat adalah urusan sikap/karakter.

Untuk itu, sejak tiga tahun yang lalu, Kemdikud mulai melakukan kajian bagaimana meningkatkan karakter dan budi pekerti peserta didik. Hasil kajian akhirnya tertuang dalam Kurikulum 2013 yang secara sistematik diharapkan dapat membentuk karakter dan budi pekerti luhur para siswa. “Salah satu cara (membentuk sikap) adalah dengan menambah jumlah jam untuk pelajaran agama dan budi pekerti, yang awalnya dua jam menjadi empat jam,” jelasnya.

Sedangkan untuk kasus yang telah terjadi, Mendikbud menyerahkan sepenuhnya kepada pihak berwajib, kepolisian. Untuk kasus yang melibatkan sekolah dasar, Kemdikbud juga meminta dinas pendidikan provinsi, kabupaten/kota untuk mengevaluasi. “Kami serahkan sepenuhnya kepada dinas. Saya kira tidak harus serta merta ditutup (sekolahnya). Dievaluasi semua dan saya yakin tidak sampai menutup. Anak nakalnya saja yang dibina,” tandasnya.(kemdikbud.go.id)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.