Mendikbud Nilai Literasi Dorong Penguatan Karakter

oleh -12 views
serius-sejumlah siswa membaca buku di cafe baca SMPN 1 Cilimus.(USAID Prioritas)
Arrief Ramdhani
serius-sejumlah siswa membaca buku di cafe baca SMPN 1 Cilimus.(USAID Prioritas)
serius-sejumlah siswa membaca buku di cafe baca SMPN 1 Cilimus.(USAID Prioritas)

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan menilai literasi penting dalam penguatan karakter bangsa. Literasi juga baik untuk menguatkan budaya baca di Indonesia.

“Dan budaya baca juga menjadi salah satu strategi utama pendidikan di Indonesia saat ini,” kata Anies dalam keterangan persnya, Rabu (20/7). Agar bisa tercapai, Mendikbud pun mendorong Linguistik Sistemik Fungsional (LSF) dalam penerapan pendidikan bahasa di Indonesia. Hal tersebut diwujudkan dengan diselenggarakannya Kongres Internasional Linguistik Sistemik Fungsional (ILSF) ke-43, di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 19 samlai 23 Juli 2016.

Menurut Anies, Linguistik fungsional sistemik (LSF) memberikan dampak yang nyata pada pendidikan di seluruh dunia dan yang paling jelas terlihat pada pendidikan bahasa.

“Saat ini, LSF juga terlihat dampaknya pada pengajaran di bidang studi lain. LSF membantu kita untuk menghasilkan, menganalisa, dan memahami jenis teks yang bermacam karakter. Ketika guru dibantu untuk belajar teori linguistik fungsional sistemik dan memahami berbagai ragamnya, maka mereka sedang didorong untuk memajukan keberhasilan belajar peserta didik,” tutur Alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) ini.

Berkenaan kongres ini, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud memang telah bekerjasama dengan UPI dalam menyelenggarakan ini. Tujuannya, dapat mendorong kesadaran pentingnya literasi dalam kurikulum pembelajaran.

LSF juga dianggap memegang peranan penting dalam perkembangan pengajaran bahasa di Indonesia baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi. Ini juga telah diadopsi dalam kurikulum, khususnya bahasa Inggris, melalui implementasi pengajaran berbasis teks sejak dicanangkannya KBK (2004), lalu KTSP (2006) sampai dengan Kurikulum 2013.(republika.co.id)