Mendikbud Agar Kembalikan Pendidikan ke Pemikiran Ki Hajar

Thursday 31 October 2019 , 7:23 AM

Guru-guru di SMPN 19 Tanjab Timur sedang melakukan DO, guru tersebut didampingi fasda Muhammad Taufik, Jum’at (8/3/2019).

KOMISIONER Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang pendidikan, Retno Listyarti mengatakan digitalisasi dalam pendidikan itu penting. Namun, ia menjelaskan peran guru juga sangat penting dan tetap tidak bisa digantikan dengan digitalisasi.

Di dalam kegiatan pembelajaran, efek sosial seorang guru tetap dibutuhkan oleh murid-muridnya. Ia menyontohkan, bagaimana guru mengajari muridnya dengan kontak mata dan ekspresi-ekspresi sosial yang bisa membentuk karakter anak.

Ia mendorong agar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) untuk mengembalikan pendidikan sesuai dengan pemikiran awal Ki Hajar Dewantara. Artinya, kata dia, pendidikan sejatinya menguatkan kebudayaan dan nilai-nilai luhur bangsa kepada peserta didik.

“Ki Hajar Dewantara mengatakan, bahwa, pendidikan merupakan proses pembudayaan, yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan, tetapi juga memajukan dan mengembangkan kebudayaan menuju arah keluhuran hidup manusia,” kata Retno, di Kantor KPAI, Rabu (30/10).

Retno menjelaskan, Bapak Pendidikan Indonesia tersebut membedakan antara sistem ‘pengajaran’ dan ‘pendidikan’. Pendidikan dan pengajaran idealnya memerdekakan manusia secara lahiriah dan batiniah.

Pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah seperti kemiskinan dan kebodohan. Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin seperti otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, dan mentalitas demokratis.

Manusia merdeka, kata Retno adalah yang mampu bersandar dan berdiri di atas kakinya sendiri. “Artinya, sistem pendidikan itu mampu menjadikan setiap individu hidup mandiri dan berani berpikir sendiri,” kata Retno menjelaskan.

Retno mengatakan, mendikbud yang baru berasal dari latar belakang pengusaha. Ia terbiasa dengan kegiatan bisnis dan memang pandai dalam mengatur perusahaannya. Namun, ia menuturkan, mengatur pendidikan dan anak-anak akan berbeda dari mengatur sebuah perusahaan.

Ia menegaskan, jangan sampai pendidikan hanya ditujukan agar anak Indonesia bisa mudah mendapatkan pekerjaan ketika dewasa. “Pengusaan diri merupakan langkah yang dituju untuk tercapainya pendidikan yang memanusiakan manusia. pendidikan tidak semata-mata bertujuan untuk mendapatkan pekerjaan,” kata Retno.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim mengatakan, terpilihnya Mendikbud Nadiem Makarim menimbulkan harapan sekaligus kecemasan bagi para praktisi pendidikan. Publik berharap, Nadiem akan membawa angin perubahan terhadap pendidikan nasional yang masih belum baik.

“Dengan setumpuk kesuksesannya mengelola bisnis aplikasi, membawa harapan Mas Nadiem akan mampu menyiapkan teknologi bagi dunia pendidikan untuk menjawab tantangan revolusi industri 4.0. Di sisi lain, kita cemas sebab pengalaman Mas Nadiem yang belum pernah mengurus persoalan pendidikan, termasuk minimnya pengalaman di dunia birokrasi,” kata Satriwan.

Selain mengenai pentingnya pendidikan karakter, Satriwan menjelaskan Kemendikbud perlu membuat grand design pengelolaan guru. Rancangan ini harus benar-benar mencakup secara holistik.

Mulai dari rekrutmen guru dan mengelola Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), hingga konten di dalam pendidikan. Apalagi, saat ini pendidikan tinggi sudah menjadi wewenang Kemendikbud.

Satriwan berharap, dengan demikian akan lebih memudahkan mengatur para calon-calon guru sehingga nantinya Indonesia memiliki guru yang benar-benar berkualitas. “Jadi kalau bisa LPTK ini ada semacam kontrak untuk mengisi kebutuhan guru di Indonesia,” kata Satriwan.(republika.co.id)

 

Comments are closed.