Menara Kujang ‘Kadeudeuh’ bagi Warga Jatigede

oleh -16 views
Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil meninjau lokasi yang akan menjadi landmark pariwisata kawasan Jatigede di Kabupaten Sumedang, Minggu (23/5/2021). (Foto: Yogi P/Biro Adpim Jabar)

BANDUNG, Siapbelajar.com – Masjid dan menara kujang di Jatigede dimaksudkan sebagai kadeudeuh (rasa sayang) bagi warga yang rumahnya masuk genangan waduk dan harus pindah ke tempat lain. “Pariwisata Jatigede adalah ‘kompensasi’ untuk warga Sumedang yang harus pindah akibat pembangunan infrastruktur (baca: waduk) Jatigede,” ujar Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Senin (24/5/2021).

Menurutnya, pembangunan pariwisata akan menghidupkan perekonomian daerah di mana saat ini warga setempat relatif tidak menikmati kehadiran waduk tersebut kecuali pemandangan indahnya saja. “Nanti akan hadir ribuan lowongan kerja di KEK pariwisata, jika disetujui (pemerintah pusat),” sebut Gubernur.

PERKEMBANGAN VIRUS CORONA

Berita Selengkapnya

Sekretaris Daerah Kabupaten Sumedang Herman Suryatman mengungkap bahwa ide pembangunan masjid dan menara kujang merupakan rencana lama yang muncul sebelum pandemi COVID-19. Dalam sebuah diskusi antara Gubernur Ridwan Kamil dan Bupati Dony Ahmad Munir kala itu, sama sekali tidak ada bayangan bahwa pandemi akan muncul Maret 2020. “Sebelumnya tidak ada bayangan (pandemi). Tapi the show must go on,” ujarnya ketika dihubungi via telepon.

Menurutnya, proyek nasional Waduk Jatigede prosesnya berjalan selama puluhan tahun mulai dari rencana 1963, ganti rugi lahan yang memakan energi besar masyarakat, hingga dampak sosial seperti kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian.

Kini setelah waduk itu jadi, warga 52 desa di lima kecamatan yang menjadi lokasi waduk tidak mendapatkan manfaat apa- apa. “Masyarakat sekitar Jatigede layak mendapatkan ini sebagai ganti atas pengorbanan mereka,” katanya.

Ironis

Menurut Herman, Waduk Jatigede sungguh ironis karena benefitnya seperti pengairan, pengendali banjir, dan listrik justru dinikmati warga di luar Sumedang seperti Majalengka, Indramayu, Cirebon. Sementara saat ini warga sekitar Jatigede masih terkategori daerah tertinggal.

“Sumedang sendiri tidak dapat apa- apa. Air baku tidak ada, keramba jaring terapung tidak boleh. Jatigede itu kantong kemiskinan, tugas kami menyejahterakan rakyat. Kami perlu terobosan dan diferensiasi, satu- satunya solusi menanggulangi kemiskinan (di Jatigede) itu pariwisata,” katanya.

Sekda memahami ada suara berbeda dari masyarakat yang menganggap tidak sensitif dengan keadaan saat ini. Namun, ia meminta masyarakat memahaminya dengan lebih komprehensif dan rasional. Pandemi COVID-19 memang menjadi masalah utama saat ini tapi bukan berarti pembangunan infrastruktur pariwisata berhenti. Pembangunan dari sekarang adalan ancang- ancang Sumedang untuk menyongsong kehidupan setelah pandemi.

“Pascapandemi nanti akan ada booming pariwisata. Karena masyarakat seperti ‘kuda leupas tina gedogan’, kita harus siap,” sebut Herman.

Konsep wisata di Jatigede sendiri akan menggabungkan aspek religi melalui masjid, budaya melalui menara kujang, serta sentuhan teknologi informasi melalui jehadiran museum Jatigede. Saat ini, proyek senilai Rp100 miliar dari bantuan keuangan Pemda Provinsi Jabar sedang memasuki tahap lelang dan akan mulai dibangun Juni 2021. Selain mengidekan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang mendesain menara kujang dan masjid tersebut.***