Memperkuat Karakter Anak Lewat Lagu Sunda

oleh -7 views
Ilustrasi (unpad.ac.id)
Arrief Ramdhani
Ilustrasi (unpad.ac.id)
Ilustrasi (unpad.ac.id)

LAGU dipercaya sebagai medium yang tepat untuk membangun karakter anak. Oleh sebab itu, karakter kesundaan coba dibangun dengan memopulerkan lagu-lagu Sunda untuk anak-anak.

Seniman Ubun R. Kubarsah memperkenalkan lagu-lagu anak berbahasan Sunda dalam “Kawih Asuh Barudak”. Ia menjelaskan, “Kawih Asuh Barudak” berisi lagu-lagu pengasuhan anak bertema pendidikan. Komposisi lagunya dikreasi dalam kawih Sunda yang telah akrab di masyarakat Jawa Barat. Pesan kognitif diharmonikan dengan ritme dan dinamika lagu anak-anak.

“Membuat lagu anak itu sulit. Lebih sulit daripada membuat lagu untuk orang dewasa. Sudah sulit, susah laku pula,” kata Ubun saat menjadi pembicara di Forum Asia Afrika yang digelar di Aula Pikiran Rakyat Jalan Asia Afrika Kota Bandung, Senin, 6 Juni 2016.

Susah laku, maksudnya, lagu-lagu anak, terutama yang berbahasa Sunda tidak lagi populer di kalangan anak-anak sendiri. Salah satunya karena orang tua, juga guru di sekolah tidak familiar dengan lagu anak berbahasa Sunda.

Kendala itu masih ditambah dengan batasan-batasan dari pemerintah soal pendidikan karakter. Menurut ketentuan pemerintah, ada 18 kriteria yang harus dipenuhi dalam pendidikan karakter. “Ini berat juga,” kata Ubun.

Menurut dia, anak-anak nyaris tak tertarik lagi dengan pupuh. Ketertarikan itu mulai terbangun jika iramanya mengandung kendang. “Mulai anak-anak tertarik, meskipun tidak hafal liriknya tetapi ada entakan-entakan,” katanya.

Kebanyakan anak-anak lebih akrab dengan nada-nada diatonis, ketimbang pentatonis seperti langgam Sunda. Dengan kondisi ini pencipta lagu anak Sunda harus jeli menangkap tema-tema yang menarik dan berkaitan dengan anak-anak. Metode pembelajaran lagu Sunda, kata Ubun, juga penting. Ia memperkenalkan “Kawih Asuh Barudak” dengan metode Tilu Langkah. Yaitu, galantang maca (dibaca nyaring), galindeng nutur (dituturkan dalam hati), galindeng bisa (menyanyikan lagu sendiri).

Dengan cara ini diharapkan bisa meningkatkan minat anak-anak memahami dan menafsirkan pesan dalam lagu. Lebih jauh, lagu-lagu ini diharapkan anak-anak bisa mengekspresikan diri. “Kalau lagu Sunda jadi gerakan, ini bisa dahsyat,” ujar Ubun.

Budayawan Sunda yang juga mantan Rektor Unpad, Ganjar Kurnia mengatakan, lagu mempunyai makna yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan setiap lembaga atau organisasi mempunyai lagu sebagai hymne dan mars.

Meski demikian, tidak serta-merta lagu bisa membentuk karakter anak. Banyak lirik lagu dengan nilai yang baik dihafal oleh anak-anak, namun hal itu berbeda dengan realitanya. Misalnya lagu-lagu yang membicarakan soal pentingnya sekolah, pada kenyataannya lagu itu dinyanyikan oleh anak-anak yang tidak sekolah. ” Lagu hanya sekadar dilantunkan, tidak dilaksanakan atau diamalkan,” tutur Ganjar.

Selain itu, Bahasa Sunda sendiri saat ini lebih sering diajarkan sebagai ilmu pengetahuan. Bukan sebagai bahasa komunikasi. “Kalau di sekolah Bahasa Sunda disuruh mengisi, beureum titik-titik, koneng titik-titik. Apa yang seperti itu masih perlu,” tuturnya.

Ia berharap, Paguyuban Pasundan bisa menjadi pelopor memopulerkan kembali lagu Sunda di kalangan anak-anak. “Kalau sekolah di bawah Paguyuban Pasundan menekuni bidang Bahasa Sunda dan lagu Sunda, sepertinya akan lebih oyag,” ujar Ganjar. Nadom dan lentong yang menjadi kekayaan Bahasa Sunda juga harus mulai dikumpulkan kembali. Melalui dua seni itu Bahasa Sunda bisa dihidupkan kembali.

Ketua Paguyuban Pasundan Didi Turmudzi berharap Dinas Pendidikan Jabar bisa menyerap lagu-lagu Sunda sebagai media pembentukan karakter anak. Di tengah masyarakat yang kian modern dan lemahnya fungsi keluarga, lagu Sunda bisa menjadi kekuatan untuk membentuk karakter anak.

“Lagu kalau dibawakan secara benar pengaruhnya akan sangat dalam,” ujarnya.

Ketua Lembaga Budaya Sunda Universitas Pasundan, Hawe Setiawan, mengatakan bahwa pendidikan karakter menjadi kegelisahan semua kalangan, baik dari pendidik maupun seniman. Kegelisahan itu dijawab dengan lagu-lagu yang didedikasikan bagi pendidikan. Tinggal bagaimana gerakan budaya melalui musik dan lagu ini bisa berperan dalam pendidikan karakter.

“Pendidikan sejatinya selalu berkaitan dengan karakter. Pendidikan itu ujung-ujungnya membentuk karakter. Kalau sekarang disebut pendidikan karakter, mungkin karena masyarakat mulai khawatir tidak ada pendidikan karakter. Menguatkan bahwa pendidikan karakter sekarang ini kerap diabaikan,” tuturnya.( pikiran-rakyat.com)