Memperkenalkan Cita-cita kepada Siswa Kelas 1 SD

oleh -3 views
Robertus Royanto (55), sedang memperkenalkan cita-cita kepada murid kelas 1 SD Perguruan Rakyat 2, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan.
Arrief Ramdhani
Robertus Royanto (55), sedang memperkenalkan cita-cita kepada murid kelas 1 SD Perguruan Rakyat 2, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan.
Robertus Royanto (55), sedang memperkenalkan cita-cita kepada murid kelas 1 SD Perguruan Rakyat 2, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan.

PENGENALAN cita-cita kepada anak penting untuk diajarkan sejak kecil. Pengenalan tersebut hendaknya dilakukan dengan cara menarik. Robertus Royanto (55), profesional di bidang media, memilih berpartisipasi untuk menjadi relawan di sekolah Perguruan Rakyat 2, Bukit Duri, Tebet Jakarta Selatan, dalam program Kelas Inspirasi, Kamis (24/4/2014). 

Pada kegiatan ini, pengajaran mengenai pentingnya punya cita-cita, ia sisipkan dalam materi mengajar murid kelas 1 pada pagi itu. Bentuk pengajaran yang penuh dengan interaksi sudah diterapkan sejak memasuki kelas.

“Kalau saya (Roy) bilang PR2 adik-adik jawab, ’ok’, kalau saya bilang kelas satu, adik-adik jawab, ’hebat’,” kata Roy di depan kelas.

Pemberian moto kelas oleh Roy, sontak mencuri perhatian anak-anak tersebut. Tak mau kehilangan kesempatan, ia pun memperkenalkan diri sebagai pengajar baru pada hari itu.

Setelah anak-anak mengenalnya, Roy mencoba membuka keheningan dengan menanyakan pelajaran favorit mereka. Hanya beberapa anak terlihat menunjuk tangan.

Tak banyak mendapat tanggapan, ia pun mencoba mengganti pertanyaan dengan sebuah soal matematika ringan. “Lima tambah lima berapa ya? Ada yang tahu?” tanya Roy pada mereka.

Sebagian besar murid terlihat bersemangat menjawab “sepuluh” secara serentak. Roy mulai tersenyum. Pujian ’pintar’ kepada anak-anak ia lontarkan atas jawaban mereka yang benar. Tak lupa dengan misinya sebagai pemberi inspirasi pada anak, Roy mencoba mengenalkan para murid dengan koran.

Bagaimana bentuk koran, orang yang membuat berita di koran, dan tujuan koran dibuat. Hal ini juga merupakan pengenalan profesi Roy kepada anak-anak tersebut. Ketika kelas mulai ribut, Roy mencoba mencuri perhatian para murid kembali. Ia mengambil sebuah boneka tangan dan memainkannya dengan riang.

“Ada yang mau jadi pemain bola, enggak?” tanya Roy kemudian.

Menanggapi pertanyaan tersebut, sebanyak sembilan anak laki-laki berlari maju ke depan kelas. Sambil mengacungkan tangannya, masing-masing anak mencoba mendapatkan perhatian Roy.

“Saya mau masuk Manchaster United, pak,” ujar seorang anak kemudian.

Kembali tersenyum, Roy menyuruh anak-anak tersebut kembali menuju bangku masing-masing. Pujian ’hebat’ disampaikan Roy kepada anak-anak tersebut.

“Punya cita-cita itu penting loh, adik-adik harus semangat belajar biar hebat kayak yang dicita-citakan,” tambahnya.

Menjelang penutupan pertemuannya dengan para murid, Roy mengingatkan mereka untuk terus mengejar cita-cita mereka. Ia juga menghimbau agar berani meraih mimpi mereka kelak, dengan tetap semangat belajar dan berprestasi di sekolah.(edukasi.kompas.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.