Memajukan Industri Film Lewat Kurikulum 2013

oleh -5 views
Ilustrasi
Arrief Ramdhani
Ilustrasi
Ilustrasi

KEMAJUAN industri film pada suatu bangsa juga ditentukan oleh penghargaan yang diberikan oleh masyarakat dalam negara tersebut, terutama para generasi muda. Kecintaan kawula muda terhadap karya seni Nusantara, termasuk harus dibangun sejak dini.

Menyadari hal tersebut, pengenalan dan kecintaan terhadap dunia seni terhadap kawula muda harus dibangun sejak dini. Salah satu bentuknya dengan menerapkan pemahaman tersebut dalam kurikulum 2013.

banner 728x90

“Industri film Indonesia tidak bisa berkembang baik kalau masyarakatnya sendiri tidak bisa mencintai film nasional. Maka dalam kurikulum 2013, kami memasukkan seni budaya. Dengan memasukkan itu, kami harap siswa jenjang menengah bisa memberi apresiasi yang baik terhadap film nasional,” kata Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Kacung Marijan, dalam jumpa pers 64 Tahun Hari Film Nasional di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (26/3/2014).

Tidak hanya itu, lanjutnya, pemahaman tentang dunia seni juga akan dikuatkan dengan pendirian laboratorium film di sekolah-sekolah. Sehingga pengenalan seni para siswa tidak hanya terbatas pada musik saja tapi juga perfilman.

“Pengembangan infrastruktur ke sekolah berupa laboratorium seni budaya, semacam mini teater. Tidak hanya musik seni tapi juga merambah perfilman. Kalau satu kabupaten/kota minimal ada lima teater, akan ada 2.500 teater di seluruh Indonesia,” tuturnya.

Menurut Kacung, sebagai penghasil sumber daya manusia (SDM) yang akan berkontribusi dalam dunia perfilman nasional, pendidikan perfilman patut mendapat perhatian khusus. Untuk itu, lanjutnya, perlu ada diskusi antara pemerintah, institusi, maupun pihak industri untuk merumuskan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

“Pendidikan perfilman harus dapat perhatian khusus. Kami diskusi dengan rektor institut kesenian yang punya program studi (prodi) kesenian untuk merumuskan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja karena SDM perfilman lahir dari sana. Perfilman Indonesia sekarang masih banyak kritik, tapi kalau berpikir optimis, kita pasti bisa maju. Lihat perubahannya. Kalau dulu perbandingan film Indonesia dan Hollywood 1:16 sekarang sudah 1:3,” tutup Kacung.(kampus.okezone.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.