Melatih emosi anak lewat permainan menang-kalah

oleh -34 views
Ilustrasi (kemdikbud.go.id)
Arrief Ramdhani
Ilustrasi (kemdikbud.go.id)
Ilustrasi (kemdikbud.go.id)

ADA kalanya anak selalu ingin menang dan marah bila kalah dalam permainan kompetitif. Dokter spesialis anak, dr Markus Danusantoso, mengatakan, orangtua tidak membuat anak menjadi depresi karena kalah saat bermain.
“Mainan itu harus dibuat menyenangkan,” kata dia dalam jumpa pers, di Jakarta, Rabu (7/10).

Justru, orangtua sebaiknya memanfaatkan permainan seperti itu untuk membimbing anak untuk memahami konsekuensi dari setiap perbuatan. “Misalnya catur, kita bimbing agar anak berpikir kalau jalan ke sini jadi kalah,” ujar dia

banner 728x90

Justru, anak diajarkan mengetahui ada dampak dari setiap pilihan langkah yang diambilnya, baik itu menang maupun kalah. Ajak anak berdiskusi agar dapat memutuskan pilihan yang tepat.

“Bimbing anak untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya,” ujar dia. Permainan menang-kalah sebaiknya dipraktikkan saat anak sudah berusia di atas tiga tahun.

“Permainan 0-3 tahun sebaiknya tidak mengutamakan jadi pemenang, tapi mengajarkan anak untuk bisa mengetahui cara memainkan mainan,” jelas dia.

Mendampingi anak saat bermain juga berguna agar dia dapat mengendalikan emosi saat mengalami kesulitan kala bermain. Orangtua dapat segera memberitahu solusi bila anak mengalami kendala.

“Kalau dia kesal atau bingung bagaimana cara mainnya, harusnya orangtua mendampingi dan bilang pelan-pelan bahwa anak tidak perlu emosi,” papar dia.

Dengan demikian, anak dapat mengerti bahwa kesulitan dapat diatas bila dibantu tanpa perlu meledakkan kemarahan. Orangtua pun harus tanggap bila anak terlihat kebingungan saat bermain.

“Jangan tunggu sampai dia nangis kejer baru orangtua mendatangi,” kata dia. Anak yang didampingi saat bermain lama kelamaan akan menjadi “master” permainan yang melatih merka untuk menjadi mandiri.(antaranews.com)