Mau Menanam Sayuran di Karpet, Ini Caranya

oleh -4 views
Ilustrasi (diaridietkutu.blogspot.com)
Arrief Ramdhani
Ilustrasi (diaridietkutu.blogspot.com)
Ilustrasi (diaridietkutu.blogspot.com)

UNTUK melakukan praktik menanam di karpet, biaya pun dapat ditekan, kecuali pompa air untuk sirkulasi air dan nutrisi tanaman. Pompa air yang dimaksud bisa menggunakan pompa air untuk akuarium atau pompa submersible (red;pompa benam).
Untuk menyusun rangkaian wallgarden ini juga tidak sulit. Cukup menyiapkan bingkai dari kayu atau bambu dengan ukuran sesuai kebutuhan. Sebelum ditutup dengan karpet pada kedua sisinya (red; bolak- balik), pada bagian dalam bingkai ini dipasang pipa PVC yang telah diberi lubang.

Lubang ini akan mengalirkan air dan nutrisi ke seluruh bidang karpet. Sedangkan di bagian bawah bingkai dipasang pipa PVC berukuran lebih besar sebagai penampung. Dari penampungan ini, air yang telah diberikan nutrisi tanaman akan dipompa terus. Sehingga terjadi sirkulasi yang stabil.

“Karpet harus disayat sepanjang lima hingga 10 centimeter dengan jumlah sesuai kebutuhan untuk menyelipkan tanaman sekaligus tempat tumbuh sayuran ,” tegas Wendi Sofiandi, siswa kelas XII SMKN 1 Bawen, akhir pekan kemarin.

Salah satu pembimbing siswa, Supadi menuturkan, jenis sayuran yang cocok ditanam dengan metode ini adalah bayam, sawi, daun bawang, seledri, selada air dan sayuran daun lainnya.

Untuk nutrisi yang dibutuhkan tanaman, cukup menggunakan racikan jadi yang banyak di dapatkan di toko- toko pupuk dan nutrisi tanaman. “Namun yang paling sederhana kebutuhan nutrisi ini dapat dilakukan dengan memberikan pupuk majemuk (NPK), tambahnya.

Ia juga mengungkapkan, pola ini juga sangat praktis. Selain sebagai alternatif untuk menyiasati keterbatasan lahan juga dapat dilakukan siapa saja dan di mana saja. Sehingga tidak harus mempertimbangkan lingkungan yang paling cocok untuk tanaman sayuran. Karena di perkotaan pun juga mudah dilakukan.

Untuk rumah tangga cara menanam ini juga mudah dilakukan. Karena sangat efektif untuk mendukung mandiri pangan, khususnya bagi kebutuhan sayuran. Karena nilai lebih dari pola tanam ini adalah mampu meniadakan  penggunaan pestisida. Sehingga sayuran yang dihasilkan benar- benar sayuran organik.

Ia juga mengaku, model ini dikembangkan untuk memantik kreatifitas siswa. Khususnya dalam mengembangkan teknologi pertanian. “Diharapkan teknologi yang telah dikembangkan para siswa ini akan mampu menjadi penopang kemandirian pangan,” tegas Supadi.(republika.co.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.