Masih Perlu UN Nggak Sih?

oleh -2 views
Ilustrasi (agussisyantobiologi.blogspot.com)
Arrief Ramdhani
Ilustrasi (agussisyantobiologi.blogspot.com)
Ilustrasi (agussisyantobiologi.blogspot.com)

INDONESIA Research Center (IRC) menyatakan Ujian Nasional (UN) masih perlu diadakan. Lantangnya suara berbagai lapisan masyarakat yang direkam oleh berbagai media untuk meniadakan UN rupanya tak tercermin dalam hasil polling IRC.
Dalam risetnya, seperti dikutip Okezone, Kamis (25/4/2013), IRC menemukan enam dari 10 responden mengatakan hal tersebut walaupun bukan cerminan dari pendapat mayoritas responden.

“Hanya sekira 40 persen responden mengatakan UN tidak lagi perlu diadakan di tahun mendatang, alias hapuskan saja,” demikian berdasarkan hasil riset tersebut.

Baik yang pro maupun kontra terhadap kelanjutan pelaksanaan UN pun memiliki alasan. Sekira 38,3 persen responden mengatakan ujian tersebut diperlukan untuk mengevaluasi hasil belajar siswa. Siswa dan orangtua memang bisa kehilangan pijakan dalam menilai apakah kemampuan akademis siswa berada di bawah atau di atas rata-rata.

Demikian juga para guru dan sekolah, yang tak dapat mengetahui apakah kegiatan mengajar yang telah mereka lakukan dapat membawa siswa memperoleh kemampuan akademis di atas rata-rata, atau sebaliknya.

Selain itu, UN juga bisa menjadi alat pemetaan kualitas pendidikan di Indonesia. Setidaknya begitu kata 19,8 persen responden yang setuju untuk UN diteruskan pada tahun mendatang.

Sementara menurut 15,3 persen responden, UN juga berguna untuk standarisasi kualitas siswa agar siap dengan persaingan global, meningkatkan kegiatan belajar murid (10,5 persen), memacu perbaikan dan pemerataan pendidikan 10,5 persen, dan meningkatkan persaingan antarsekolah di seluruh Indonesia 2,2 persen.

Mayoritas responden (42,4 persen) yang ingin ujian penentuan itu dihapuskan mengatakan UN hanya membuat stres. Hal tersebut mengamini kesimpulan Komisi Nasional Perlindungan Anak (KNPA).

Sekira 17,1 persen mengatakan UN tidak diperlukan karena sistem yang buruk. Maklum dari tahun ke tahun ujian kelulusan ini ada berbagai masalah. Setiap tahun pula UN selalu menjadi kontroversi apakah dihapus saja atau diteruskan.

Kelompok responden ini sebenarnya bukannya tak setuju UN dilanjutkan pelaksanaannya. Kelompok ini akan mendukung pelaksanaan UN asal syarat-syarat yang diperlukan agar UN dapat menimbulkan manfaat telah terpenuhi.

Responden lain mengatakan UN tidak terbukti membuat siswa belajar lebih giat (11 persen). Masuk akal, mengingat sebagian siswa malah sibuk berburu bocoran soal atau jawaban ketimbang belajar. Sekira 9,6 persen responden mengatakan UN tidak efektif dan tidak adil (6,2 persen).

“Tentu pendapat mereka merujuk pada fasilitas dan kualitas pendidikan yang tidak merata yang lalu diuji dengan soal ujian dengan tingkat kesulitan yang sama dan hasilnya digunakan sebagai penentu kelulusan,” ujar riset tersebut.

Secara keseluruhan baik responden yang setuju maupun tidak setuju dengan berlangsungnya UN, memilki pemikiran ada cara lain untuk menilai siswa selain ujian di atas kertas. Mayoritas responden (55,4 persen) mengatakan penilaian terhadap siswa seharusnya dilakukan dengan kombinasi kekhasan kemampuan siswa dan nilai akademik yang dapat diukur melalui UN.

Adapun sekira 37,9 persen responden menilai bahwa kekhasan siswalah yang seharusnya menjadi pertimbangan, bukan nilai akademis. Karena setiap individu memiliki bakat dan kemampuan berbeda-beda. Dari responden yang sebagian besar setuju bahwa UN dapat diteruskan pelaksanaannya di tahun mendatang ini, hanya sekira 5,5 persen yang mengatakan UN adalah cara yang lebih tepat untuk menilai kemampuan siswa. Artinya, UN penting, tapi bukan segala-galanya.(kampus.okezone.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.