Mari Lestarikan Observatorium Bosscha

oleh -22 views
Observatorium Bosscha
Arrief Ramdhani
Observatorium Bosscha
Observatorium Bosscha

BADAN Pelestarian Pusaka Indonesia bekerjasama dengan pihak pengelola Observatorium Bosscha melaksanakan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke – 68, Sabtu (17/8/2013) bertempat di Observarium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.  Acara dihadiri oleh para mitra BPPI, diantaranya, Program Studi Manajemen Industri Katering FPIPS UPI, Institut Teknologi Bandung, dan Alumni Astronomi ITB, Paguyuban Pelestari Budaya Bandung (Bandung Heritage), Rumah Kahuripan, Yogyakarta Heritage Society, Jagaddhita, Badan Promosi Pariwisata Kota Bandung, dan yang lainnya.

Acara dibuka dengan menampilkan lagu dan alunan biola oleh anak-anak yang bergabung di Violin Nusantara. Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Catrini, selaku  Direktur Executif BPPI. Ia menyampaikan selain perayaan Dirgahayu RI, sebenarnya  pada hari ini pun merupakan hari kelahiran BPPI yang ke-9. Pemilihan pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan di Observatorium Bosscha (OB) sebenarnya sudah sejak lama dirancang. Alasan wanita ini bahwa ia melihat perlunya mengamankan OB dari terancamnya tata ruang yang tidak ideal, adanya polusi cahaya dari lingkungan, perlunya didorong dilaksanakan green map yang dapat dipelopori oleh masyarakat sekitar untuk memetakan apa yang ada di lingkungannya terutama yang memiliki keunikan dan sejarah lingkungan. Ia pun melempar gagasan untuk dilaksanakan pembentukan Komunitas Sahabat Bosscha yang peduli dengan pelestarian OB.

banner 728x90

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Mahaseno Putra Kepala Departemen Astronomi Observatorium Bosscha memaparkan tentang sejarah OB yang dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Pada rapat pertama NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Dan di dalam rapat itulah, Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar, bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini.

Pembangunan observatorium ini sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1928.Kemudian pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosscha kemudian menjadi bagian dari ITB. Dan sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia. Saat ini OB menjadi Fakultas MIPA – ITB, Observatorium Bosscha memberikan layanan bagi pendidikan sarjana dan pascasarjana di ITB, khususnya bagi Program Studi Astronomi, FMIPA – ITB. Penelitian yang bersifat multidisiplin juga dilakukan di lembaga ini, misalnya di bidang Optika, Teknik Instrumentasi dan Kontrol, Pengolahan Data Digital, dan lain-lain. Bosscha bukan hanya observatorium tertua di Indonesia, tapi juga masih satu-satunya obervatorium besar di Indonesia. Observatorium Bosscha juga mempunyai peran yang unik sebagai satu-satunya observatorium besar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara sampai sejauh ini.

Salah satu kegiatannya adalah melakukan program pengabdian masyarakat, melalui ceramah, diskusi dan kunjungan terpandu ke fasilitas teropong untuk melihat objek-objek langit, masyarakat diperkenalkan pada keindahan sekaligus deskripsi ilmiah alam raya. Dengan ini Observatorium Bosscha berperan sebagai lembaga ilmiah yang bukan hanya menjadi tempat berpikir dan bekerja para astronom profesional, tetapi juga merupakan tempat bagi masyarakat untuk mengenal dan menghargai sains (berperan sebagai public good).

“Pada tahun 2004, Observatorium Bosscha dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Pemerintah. Karena itu keberadaan Observatorium Bosscha dilindungi oleh UU Nomor 2/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Selanjutnya, tahun 2008, Pemerintah menetapkan Observatorium Bosscha sebagai salah satu Objek Vital nasional yang harus diamankan.  Hal ini karena OB berperan sebagai homebase bagi penelitian astronomi di Indonesia, tentunya merupakan aset negara dan dunia yang harus tetap kita pelihara dan kita jaga agar Observatorium Bosscha tetap bekerja sesuai fungsinya.” Ujarnya.

Lestarikan OB dengan Pemberdayaan Masyarakat

Ketua BPPI I Gede Ardika menyampaikan perayaan hari kemerdekaan bangsa Indonesia ternyata kenyataannya masih banyak masyarakat yang belum merasakan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Rangkaian Dirgahayu RI dan juga BPPI ditindaklanjuti dengan pelaksanaan  Tahun Pusaka Indonesia.  Tujuannnya adalah untuk  merekam apa yang bisa kita lakukan untuk merekam pelestarian pusaka di seluruh Indonesia mencakup lingkungan alam itu sendiri, pelestarian kebudayaan bangsa itu sendiri, dan pelestarian Saudjana.

Ia mengajak masyarakat bangsa ini, dan para pemimpin dapat meneropong jauh ke depan, bukan hanya untuk masa baktinya saja, namun melestarikan bagaimana keberlanjutan yang akan dapat dinikmati generasi selanjutnya.

Dijelaskan ia, untuk melestarikan pusaka perlu mengeliminir pola pikir pola pikir berjangka pendek, hedonis.  Ada tiga hal yang dapat diusulkan harus diupayakan munculnya peran dan fungsi OB selain sebagai  laboratorium.  Pertama diharapkan  dapat berkontribusi secara nasional, bukan hanya menjadi kawasan strategis di wilayah Jawa Barat saja, namun dapat secara nasional menjadi ikon eksistensi bangsa. Kedua dengan adanya UU Cagar Budaya yang baru, maka perlu dilakukan pengelompokan pusaka cagar budaya di tingkat lokal, tingkat propinsi, tingkat nasional.  Walaupun realitasnya peraturan tersebut  belum keluar namun kerangkanya harus sudah dirancang secara nasional.

“Hal ini penting diupayakan bersama dengan memberikan perhatian dan dukungan agar bisa dilestarikan bersama. Semoga tetap ada jalan untuk berdharma bhakti, melakukan pengabdian bagi bangsa Indonesia”, ungkap I Gede Ardika.

Sementara itu, menurut Eka Budianta sebagai seorang Budayawan yang banyak menulis buku-buku pelestarian pusaka Indonesia, mengajak para peserta melakukan perenungan perayaan Dirgahayu RI pada 17 Agustus setiap tahun dapat menggali komitmen sebagai bentuk kecintaan terhadap NKRI, dan tidak hanya dilakukan pada hari itu saja. Merupakan karunia Allah yang paling mahal karena, kita semua dapat menghargai dan memaknai waktu yang tidak bisa tergantikan momentumnya.

Ia menyampaikan rasa bangganya karena kualitas peserta yang hadir yang memiliki semangat yang tepat.  Ia pun dalam kesempatan tersebut mengajak para peserta yang hadir untuk membacakan pembacaan doa bagi para pahlawan yang telah gugur memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsa ini, kemudian ia pun para peserta menyanyikan lagu Indonesia raya hal tersebut menunjukkan bahwa kentalnya rasa kebangsaan di hari itu.(berita.upi.edu)

 

50 thoughts on “Mari Lestarikan Observatorium Bosscha

  1. Ping-balik: out mix
  2. Ping-balik: dell\'Estate 2020
  3. Ping-balik: hotel tonight app
  4. Ping-balik: mơ thấy em trai
  5. Ping-balik: hostgator.com
  6. Ping-balik: try this
  7. Ping-balik: CI CD
  8. Ping-balik: dewaqq
  9. Ping-balik: frbsffof
  10. Ping-balik: cheap essay help
  11. Ping-balik: arvest bank
  12. Ping-balik: ivermectin 50
  13. Ping-balik: snow crab legs
  14. Ping-balik: prednisolone asthma
  15. Ping-balik: ovulation clomid
  16. Ping-balik: levitra dapoxetine
  17. Ping-balik: 25 mcg synthroid
  18. Ping-balik: propecia sperm
  19. Ping-balik: 메이저놀이터
  20. Ping-balik: dumps with pin 2016
  21. Ping-balik: neurontin recall
  22. Ping-balik: paxil wiki
  23. Ping-balik: plaquenil and ra
  24. Ping-balik: Predrag Timotić

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.