Malaysia Belajar Teknologi Biopori dari IPB

oleh -1 views
Yayasan Local Agenda 21 Kuala Lumpur saat menyambangi IPB. (okezone.com)
Arrief Ramdhani
Yayasan Local Agenda 21 Kuala Lumpur saat menyambangi IPB. (okezone.com)
Yayasan Local Agenda 21 Kuala Lumpur saat menyambangi IPB. (okezone.com)

SALAH satu metode sederhana untuk menangani masalah lingkungan adalah dengan menerapkan teknologi lubang resapan biopori. Teknologi yang diciptakan seorang ahli dari Indonesia ini dilirik oleh negara tetangga, Malaysia.
Seperti halnya Indonesia, Malaysia juga tengah menghadapi permasalahan lingkungan, terutama banjir. Untuk itu, Yayasan Local Agenda 21 Kuala Lumpur, Malaysia menyambangi Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk belajar teknologi biopori langsung dari pencetusnya, Kamir Raziudin Brata.

Penyelaras Local Agenda 21 Kuala Lumpur Program Bersih dan Indah, Shaari Ahmad Juned mengatakan teknologi biopori ini sangat cocok untuk diterapkan di negara Malaysia. “Dengan biopori ini bisa menyimpan air saat hujan, dan simpanan air tersebut bisa digunakan untuk kebutuhan lain,” jelasnya kepada Okezone, Selasa (26/11/2013).

Ia melanjutkan, sekarang ini permasalahan banjir yang tak menentu sedang melanda kota Kuala Lumpur. Dengan Biopori ini, air bisa tertampung dan tidak akan menyebabkan banjir. Masalah sampah dan polusi juga tengah melanda Malaysia.

Selain bisa mengatasi banjir, dengan teknologi biopori juga bisa menjadi media pembuatan pupuk alami. Sampah organik seperti daun-daun kering dimasukkan kedalam lubang biopori, lalu setelah beberapa lama sampah tersebut akan berubah menjadi pupuk organik. “Pupuk ini juga bisa digunakan untuk pohon-pohon di sekitar taman,” ungkapnya.

Sementara itu, Kamir Raziudin Brata mengatakan banyak pihak yang justru salah dalam menerapkan teknologi biopori. “Banyak yang salah kaprah dalam mempraktekkan biopori ini,” tuturnya. Ia mencontohkan banyak orang yang sembarangan dalam membuat biopori, seperti di tengah taman, atau tidak memperhatikan kedalaman saat mengebor biopori.

Seharusnya, kata Kamir, salah satu tempat yang tepat untuk membuat biopori adalah di bawah pohon. Dengan begitu, air yang tertampung di biopori bisa diserap oleh akar.

“Yang selama ini terjadi, banyak pohon dipinggir jalan yang akarnya merusak aspal. Ini karena tak ada cadangan air sehingga akarnya merambat ke mana-mana,” bebernya.

Ia berharap agar teknologi murah meriah ini bisa diaplikasikan dengan benar oleh masyarakat luas. Ada 30 anggota Yayasan Local Agenda 21 Kuala Lumpur yang mengikuti kegiatan penerapan teknologi biopori. Mereka berasal dari kalangan pemerintah, swasta, ahli lingkungan dan pekerja perkebunan.(kampus.okezone.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.