Mahasiswa IPB Kembangkan Limbah Styrofoam Jadi Kasur

oleh -4 views
Kampus IPB di Dramaga, Bogor, Jawa Barat.
Arrief Ramdhani
Kampus IPB di Dramaga, Bogor, Jawa Barat.
Kampus IPB di Dramaga, Bogor, Jawa Barat.

MAHASISWA Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil mengubah limbah styrofoam menjadi bahan baku kasur lantai aromaterapi bermotif batik yang ramah lingkungan.
“Kami memberi nama kasur ini “Styrobed”,” kata Lutfhan Hadhi Priambodo, salah satu mahasiswa IPB pencipta Styrobed, dalam rilis yang dikirim kepada Antara, Minggu.

Lutfhan menyebutkan, Styrobed dibuat dari limbah styrofoam. Sifat styrofoam yang teksturnya mudah dijadikan butiran lembut sehingga bisa dimanfaatkan sebagai kasur lantai yang hangat dan nyaman untuk digunakan.

Dijelasknannya, pembuatan styrobed bertujuan sebagai solusi dalam mengatasi pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh limbah styrofoam.

“Diharapkan juga dengan hadirnya styrobed ini dapat menjadi solusi kreativitas masyarakat sehingga meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan pemulung sampah di Desa Galuga, Kabupaten Bogor,” katanya.

Menurut Lutfhan, melalui sistem binis sosial terpadu (integrated social business) yang dirancang dapat mengakomodir masyarakat untuk mau mengelola limbah styrofoam menjadi kasur lantai yang ramah lingkungan.

Dikatakannya, dalam menciptakan styrobed, Lutfhan bersama kedua orang rekannya, Sofika Azizia dan Wahid Nurwahyudin, membuat kasur lantai yang hangat dan nyaman dipakai. Ide pembuatan kasus styrobed ini berawal dari tempat pengumpulan sampah di Desa Galuga, Kabupaten Bogor.

Menurut Lutfhan, mereka melihat di kawasan tersebut, pengepul sampah cukup tinggi. Selain itu, di Desa Galuga terdapat pabrik garmen yang limbah tekstilnya belum termanfaatkan dengan baik.

Tidak hanya itu, lanjut Lutfhan, mayoritas warga Desa Galuga berprofesi sebagai pemulung sampah yang tidak memiliki keterampilan khusus dikarenakan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat setempat.

“Oleh karena itu, bisnis ini hadir sebagai solusi melalui kerjasama dengan masyarakat sekitar dalam pelaksanaannya,” katanya.

Dikatakannya, kerjasama akan dilakukan dalam tiga tahap, yaitu pengolahan styrofoam, pembentukan pola kain, dan pembuatan “Styrobed”.

Beberapa bentuk kerjasama mutual yang dilakukan oleh usaha “Styrobed” ini adalah dengan melakukan pelatihan, pembinaan dan pendampingan selama pelaksanaan secara berkala.

Dijelaskannya, pelatihan pada tahap satu, akan diberi pelatihan kepada kelompok bapak-bapak mengenai proses pengolahan styrofoam menjadi butir stryrofoam yang siap pakai.

“Sehingga styrofoam yang mereka dapatkan tidak dibiarkan begitu saja. Selanjutnya, kelompok ibu-ibu yang tidak bekerja di Desa Galuga juga akan diberi pelatihan proses pembentukan pola kain dan proses penjahitan “Styrobed”,” ujarnya.

Sementara itu, untuk pembuatan aromaterapinya, lanjut Lutfhan, tidak melibatkan warga Galuga. Pembuatan ini melalui kerjasama kemitraan dengan produsen aromaterapi di kota Bogor.

“Bahan dasar aromaterapi adalah Habbatussauda yang telah teruji khasiatnya untuk kesehatan tubuh, yang kemudian dicampur dengan minyak essensial,” katanya.

Selanjutnya, pelatihan akan dilanjukan, dengan proses pelatihan warga Desa Galuga menjadi tahapan kedua dan ketiga dari kerjasama integrated social business yang ada.

Pelatihan dan pembinaan awal akan menjadi modal awal dalam berjalannya bisnis ini, karena nantinya masyarakat setempat secara langsung menjadi karyawan produksi dari bisnis ini. Styrofoam yang dikumpulkan tidak lagi dijual kepada pengepul, melainkan mereka olah dan proses menjadi “Styrobed”.

“Selanjutnya “Styrobed” akan melalui proses pengemasan dan pelabelan oleh tim kami sehingga siap untuk dijual di pasaran,” ujarnya.

Lebih lanjut Lutfhan menjelaskan, pembentukan integrated social business spesialisasi pengolahan styrofoam di desa ini akan meningkatkan taraf hidup warga secara perlahan. Tentunya “Styrobed” sebagai pembina dan pembeli produk mereka juga akan mendapatkan keuntungan dari program ini.

“Simbiosis mutualisme antara “Styrobed” dan warga di Desa Galuga akan memberikan dampak sosial dan ekonomi yang menguntungkan,” katanya.

Sedangkan untuk dampak lingkungan, lanjut Lutfhan, keberadaan social business tersebut juga akan terlihat secara nyata. Styrofoam sebagai salah satu sampah yang tidak dapat terurai secara alami dalam waktu singkat akan termanfaatkan dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

“Dengan keberadaan bisnis ini pula, diharapkan dapat menjadi solusi dalam mengatasi pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh limbah,” ujarnya.(republika.co.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.