Mahasiswa IPB Awetkan Daging Sapi dengan Buah Lindur

oleh -4 views
Buah lindur
Arrief Ramdhani
Buah lindur
Buah lindur

DAGING sapi segar yang dibiarkan pada suhu ruangan akan mudah membusuk. Biasanya, untuk memperpanjang kesegaran daging, maka orang memasukkannya ke freezer. Sayangnya, cara ini justru dapat mengurangi kandungan gizi daging.

Padahal, ada lho cara baru untuk menjaga kesegaran dan keawetan daging sapi yang aman bagi kesehatan. Caranya dengan memanfaatkan buah lindur untuk membungkus daging sapi yang diolah dalam bentuk edible film (lapisan pembungkus).

banner 728x90

Teknologi edible film buah lindur untuk mempertahankan warna dan menjaga daya awet daging sapi tersebut merupakan hasil karya lima mahasiswa Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB). Mereka adalah Siluh Putu Sri Dia Utari, Riyan Adi Priyanto, Mawaddah Renhoran, TB M Gia Ginanjar, dan Annisa Shylina.

Para mahasiswa yang tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian (PKMP) itu melakukan penelitian berjudul “Aplikasi Edible Film Berbasis Pati Dari Buah Lindur (Burguiera Gymnorrhiza) Untuk Mempertahankan Kualitas Warna Dan Daya Awet Daging Sapi”.  Penelitian tersebut dilakukan di bawah bimbingan Staf Pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Roni Nugraha.

PKMP itu bermula dari ide kandungan pati (polisakarida) dalam buah lindur yang dapat diolah menjadi edible film. Apalagi, berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan  IPB bersama badan BIMAS Ketahanan Pangan Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan kandungan karbohidrat yang cukup tinggi pada buah lindur dibandingkan dengan sumber karbohidrat lainnya seperti beras dan jagung.

Tidak hanya itu, ketersediaan buah lindur sangat melimpah di Indonesia, mulai dari Pulau Jawa, Kalimantan, Bali, NTT, Maluku, hingga Papua. “Salah satu sumber hayati yang dapat dikaji sebagai bahan baku edible film adalah buah lindur (Bruguiera gymnorrhiza), buah ini adalah salah satu jenis buah dari tumbuhan mangrove yang keberadaannya cukup banyak ditemui di Indonesia,” ungkap Ketua Tim PKMP Siluh Putu Sri Dia Utari, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Jumat (9/8/2013).

Buah lindur, lanjutnya, telah banyak dimanfaatkan di berbagai negara. Bahkan, di Pulau Solomon buah ini sering dijadikan sayur dan dijual di pasaran. Sementara di Indonesia buah ini hanya dijadikan sumber pangan alternatif ketika musim paceklik tiba dan hanya pada sebagian wilayah.

“Hal tersebut yang mendasari penelitian ini, untuk memanfaatkan buah lindur sebagai bahan baku edible film yang dapat bermanfaat bagi industri pangan ke depannya,” jelasnya.

Proses pembuatan edible film terbilang sederhana. Ekstraksi pati dilakukan dengan pengupasan buah lindur, kemudian direndam dan dicuci kemudian dilakukan disintegrasi dengan penambahan air1:2 dan disaring.

Setelah penyaringan dilanjutkan dengan proses sedimentasi, pencucian, serta sentrifugasi dan akhirnya didapatkan ektraksi pati. Pembuatan edible film dimulai dengan pemanasan pati dan diaduk pada suhu 70 derajat celcius  selama 15-20 menit, pada saat yang bersamaan dilakukan pemanasan karagenan hingga suhu 70-80 derajat celsius.

Kemudian dilakukan pencampuran keduanya pada suhu 80-90 derajat celsius. Gliserol ditambahkan pada larutan campuran tersebut sambil diaduk dan dipanaskan. Larutan edible film dicetak pada plat kaca dan ditambahkan antimikroba kitosan. Edible film yang sudah tercetak kemudian dikeringkan pada suhu 60 derajat celsius selama lima hingga enam jam.

Selanjutnya, Siluh dan kawan-kawan pun mengaplikasikan edible film yang terpilih pada daging sapi sebagai pengemas. Hasilnya tepung pati buah lindur dapat digunakan sebagai edible film. Menurut Siluh, adanya  edible film yang ditambahkan antibakteri kitosan sebagai pengemas  pada daging sapi dapat berfungsi sebagai barrier dengan menghambat pertumbuhan bakteri.

“Selain itu juga berfungsi melapisi pada permukaan bahan pangan, sehingga mampu mempertahankan kualitas warna dan daya awet daging sapi dibandingkan dengan tanpa pengemas maupun dengan pengemas plastik selama penyimpanan pada suhu ruang,” tandas Siluh.

Tidak tanggung-tanggung, hasil kreativitas tersebut pun masuk sebagai salah satu inovasi yang dimuat dalam Buku 179 Inovasi IPB Paling Prospektif  yang dikeluarkan Bussines Innovation Center dan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) RI.(kampus.okezone.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.