Mahasiswa Bidikmisi: Mimpi tak Pernah Bohong

oleh -2 views
catatan-harian-fathan.blogspot.com/
Arrief Ramdhani
catatan-harian-fathan.blogspot.com/
catatan-harian-fathan.blogspot.com/

WAKTU sudah menjelang tengah hari, tapi antusias para perwakilan penerima beasiswa Bidikmisi Lampung yang berkumpul di Universitas Lampung (Unila) tak surut. Apalagi saat Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir memberikan apresiasi berupa laptop kepada mahasiswa Bidikmisi yang memiliki nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) Tertinggi.
“Saya tidak pernah mimpi apa-apa semalam sehingga mendapatkan laptop. Tapi semalam saya sempat curhat sambil mengerjakan skripsi mau beli laptop dengan mengumpulkan uang dari Bidikmisi. Saya punya laptop yang sebelumnya dari uang kumpulan saya, tapi sudah sering mati,” kata mahasiswa Universitas Lampung (Unila), Jamingatun Hasan, Kamis (25/8).

Hidup mahasiswa yang memiliki nilai IPK 3,95 ini tidaklah seberuntung temannya yang lain. Ayahnya kuli bangunan yang biasanya baru mendapatkan pendapatan saat ada proyek. Sementara sang ibu yang sebelumnya petani palawija hanya berdiam diri di rumah karena katarak. Penyakitnya ini membuat sang ibu tidak diperkenankan terkena cahaya matahari.

Meski berada dalam kondisi keterbatasan, Jamingatun tak ingin menyerah saja dalam menjalani hidup. Usaha memperoleh beasiswa pun dilakukannya agar bisa melanjutkan kuliah. Wanita kelahiran 1994 ini akhirnya memperoleh beasiswa Bidikmisi sejak semester satu.

Besaran biaya hidup Rp 600 ribu per bulan dari beasiswanya memang belum bisa mencukupi kebutuhannya. Untuk itu, sejak awal mahasiswa administrasi bisnis Unila ini mulai melakukan pekerjaan sambilan. “Pernah magang sebagi surveyor tiga bulan di bank yang uangnya lumayan, Rp 800 ribu,” kata anak pertama dari dua bersaudara ini. Di samping itu, dia juga sempat mengajar les dan melatih tari tradisional.

Wanita berhijab ini tak pernah menyangka segala hal yang telah didapatkannya. Hal ini membuktikan bahwa mimpi itu tidak pernah bohong jika bekerja keras dan berdoa. “Saya telah tulis 100 mimpi dan salah satunya mendapatkan IPK tinggi. Dan saya percaya mimpi tidak akan pernah bohong. Segala sesuatu tidak akan terwujud kalau kita tidak punya target,” ujar wanita yang berasal dari Desa Karang Sambung, Pagelaran, Pringsewu.

Berkat kesungguhannya, tidak hanya Jamingatun yang bisa mendapatkan beasiswa. Adik satu-satunya pun kini mengalami hal sama, yakni memperoleh beasiswa Bidikmisi pula. Dia selalu mengingatkan agar dia dan adiknya agar bisa terus membanggakan orang tua. Sebab, dari orang tualah kekuatan mereka berasal dan berada.( republika.co.id)