Bukan sekadar berkemah dan berlomba. Di Bumi Perkemahan Leuwikiara, Cigalontang, ratusan pelajar belajar tentang disiplin, kerja sama, kepemimpinan, hingga tanggung jawab melalui kegiatan Pramuka.
SIAPBELAJAR.COM — Semangat Kabupaten Tasikmalaya sebagai Kabupaten Pramuka terus digaungkan. Setelah penetapan resmi oleh Bupati Tasikmalaya pada 10 September 2026 di kawasan Galunggung, semangat tersebut langsung berlanjut di Kecamatan Cigalontang melalui kegiatan Lomba Tingkat II (LT-II) Regu Pramuka Penggalang SMP/MTs.
Kegiatan yang berlangsung pada 12–13 September 2026 di Bumi Perkemahan Leuwikiara, Desa Nanggerang, ini diikuti 208 peserta dari 13 pangkalan SMP/MTs. Para peserta terbagi dalam 26 regu putra dan putri.
Namun, LT-II bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Di balik setiap perlombaan, para peserta diajak belajar menjadi pribadi yang disiplin, jujur, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, sekaligus berani memimpin.
Ketua Mabiran Cigalontang, Roni Imroni, S.Sos., M.M., menegaskan bahwa kemenangan dalam Pramuka tidak hanya diukur dari perolehan juara.
“Menang adalah kebanggaan, tetapi disiplin, jujur, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama adalah kemenangan yang jauh lebih besar,” ujarnya.
Mengasah Karakter
Sejak awal kegiatan, peserta sudah dihadapkan dengan berbagai tantangan. Mulai dari registrasi administrasi regu, story telling, kerapian pakaian seragam, hingga kemampuan packing bag.
Tantangan kemudian berlanjut melalui berbagai keterampilan khas Pramuka, seperti miniatur pionering, morse, sandi, semaphore, hingga tata kelola lingkungan.
Saat malam tiba, suasana perkemahan semakin semarak. Peserta mengikuti lomba kaligrafi yang menggabungkan kreativitas dengan ketekunan, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan api unggun.
Pada hari berikutnya, kemampuan peserta kembali diuji melalui baris-berbaris menggunakan tongkat serta membaca peta pita, peta perjalanan, dan peta lokasi.
Berbagai kegiatan tersebut dirancang bukan semata-mata untuk mencari pemenang. Lebih dari itu, peserta belajar bagaimana menyelesaikan tantangan bersama, mengambil keputusan, menjaga kekompakan, serta bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing.
Salah seorang peserta dari SMPN 2 Cigalontang, Nazwa Dwi Septina Zahra, mengaku mendapatkan banyak pengalaman selama mengikuti kegiatan.
“Kami belajar banyak hal, dari pionering sampai sandi. Petualangan yang sangat seru dan takkan terlupakan,” katanya.
Hal senada disampaikan pembina dari SMP Nursalam, Kak Harry Ramadhan. Menurutnya, LT-II merupakan bagian dari proses pendidikan karakter yang dapat menjadi ruang positif bagi generasi muda di tengah perkembangan teknologi.
“LT-II ini bukan hanya lomba, tetapi proses pendidikan karakter. Kegiatan di Pramuka menjadi pilihan cerdas dalam mengatasi kecanduan gadget dan mempersiapkan generasi muda dengan delapan dimensi profil lulusan,” jelasnya.
Delapan dimensi tersebut meliputi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, serta komunikasi.
Menurutnya, melalui kegiatan seperti Pramuka, peserta dapat belajar dalam suasana yang berkesadaran, bermakna, sekaligus menggembirakan.
Semangat Jambore
LT-II Cigalontang juga menjadi bagian dari rangkaian pembinaan Pramuka yang sebelumnya diwujudkan melalui Jambore Ranting Cigalontang pada 25–27 Agustus 2026.
Jika jambore lebih menekankan kebersamaan dan pembentukan karakter, LT-II memberikan ruang lebih besar bagi peserta untuk mengasah sportivitas, keterampilan, kekompakan, dan kepemimpinan dalam regu.
Dua kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pembinaan Pramuka di Cigalontang terus berjalan secara berkelanjutan. Dari kegiatan bersama hingga kompetisi, peserta mendapatkan pengalaman yang tidak hanya berguna selama berada di perkemahan, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mengusung tema “Membangun Regu Tangguh” dengan motto “Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan”, LT-II Cigalontang menjadi pengingat bahwa Pramuka masih memiliki peran penting dalam pendidikan generasi muda.
Dari lapangan perkemahan, anak-anak belajar bekerja sama. Dari perlombaan, mereka belajar sportif. Dari setiap tantangan, mereka belajar pantang menyerah.
Pada akhirnya, yang diharapkan bukan hanya lahirnya juara lomba, tetapi tumbuhnya generasi muda Tasikmalaya yang berkarakter, tangguh, kreatif, mandiri, mampu bekerja sama, dan siap menjadi pemimpin di masa depan.
Oleh: Ernita Ruganda, S.Si., M.Pd. pengawas sekolah Kabupaten Tasikmalaya
Tidak ada komentar