Kurva Covid-19 yang Meningkat dan Tagar Indonesia Terserah

oleh -174 views
Penulis: Rinnie Rianndewi R., Psikolog. Anggota Himpsi Jabar, Psikolog Politeknik Kesehatan Tasikmalaya

SIAPBELAJAR.COM – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, kita semua berharap pandemi sudah usai, atau setidaknya kurva Covid-19 melandai. Namun, di Wilayah Asia Tenggara, kurva Indonesialah yang terus meningkat.

Berbagai upaya mulai dari social/physical distancing, stay at home, hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sepertinya tidak cukup efektif untuk menyadarkan mayoritas bangsa ini dari bahaya virus yang mengintai di tempat-tempat umum.

Ditambah lagi, kebijakan inkonsisten membuat respon yang muncul di masyarakat mengarah pada apati, antipati, bahkan pesimis.

Tagar “Terserah”

#IndonesiaTerserah, semakin viral dalam beberapa hari ini. Makna apa yang tersirat dibalik kata “terserah”?

Apakah itu bentuk kepasrahan atau keputusasaan?, bahkan mungkin, apa yang dirasakan sebenarnya sudah tidak bisa lagi dijelaskan.

Bayangkan! Para mujahid yang berada di garda terakhir itu (tenaga medis dan yang lainnya), pasti sudah berada di puncak lelah fisik dan batin.

Terkurung dalam pakaian khusus alat pelindung diri (APD) dengan prosedur yang rumit, menahan diri dari kebutuhan alami selama beberapa jam, harus berpisah dengan keluarga entah sampai kapan, sangat beresiko tertular Covid-19, masyaallah, pengorbanannya adalah kehidupannya sendiri dan keluarga.

Banyak masyarakat yang tidak memahami kondisi itu, yang lebih memprihatinkan, tidak sedikit yang tidak mau memahami atau bahkan bersikap tidak peduli dan ngeyel.

Salah satu fenomena yang terjadi, Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19, misalnya, terkait pelaksanaan ibadah sholat jum’at, bisa diganti dengan sholat zuhur berjamaah bersama keluarga di rumah.

Kajian tokoh ulama bahkan menegaskan, bahwa hal tersebut tetap memiliki konsekuensi nilai pahala yang insyaallah sama. Namun, banyak yang tidak mengindahkan hal tersebut.

Begitupula dalam pelaksanaan sholat tarawih, dan ibadah-ibadah lainnya yang dalam situasi seperti ini ada nilai kebaikan (mashlahat) bersama yang semestinya lebih diperhatikan.

Fatwa ulama yang seyogyanya diikuti, malah lebih banyak dijadikan sebagai ajang perdebatan pada sebagian masyarakat, hingga jika dilihat berdasarkan ilmu perilaku, pada sebagian orang, ada sikap egoisme dalam ibadah, baik disadari ataupun tidak.

Barangkali, dalam kajian agama, ini disebut dengan ujub, yakni, merasa diri lebih benar dari orang lain, dalam bersikap maupun bertindak. Ini salah satu contoh terkait aspek ibadah umat Islam.

Sikap dan perilaku serupa pun tampak pada PSBB dan larangan mudik, yang tampak dalam beberapa hari ini, semakin tidak digubris oleh banyak warga.

Media massa ataupun media-media sosial, banyak memberitakan tentang kepadatan pasar-pasar tradisional maupun pusat pertokoan.

Padahal, berita ini bersanding dengan kabar tentang kurva pandemi yang terus naik.

Ada beberapa faktor yang dapat digarisbawahi terkait fenomena sikap dan perilaku di atas, diantaranya :

  1. Salah paham atau tidak paham

Salah ataupun tidak paham bisa terjadi dikarenakan ketidaktahuan, mungkin karena tidak ada yang memberitahu, atau sudah diberi tahu akan tetapi kapasitas intelektualnya tidak sampai pada kemampuan untuk bisa memahami kondisi yang terjadi.

  1. Tidak peduli

Ketidakpedulian bisa kepada diri sendiri, keluarga ataupun orang lain. Sikap ini biasanya diikuti juga oleh sikap menentang, cuek, dan ngeyel kalau diberi tahu.

  1. Bias Kognitif

Dari sebuah penelitian deskriptif analisa yang dilakukan oleh Dana Riksa Buana, Dosen Fakultas Psikologi pada Universitas Mercu Buana, disimpulkan bahwa fenomena sebagaimana diceritakan di atas, terjadi disebabkan karena adanya bias kognitif (dalam jurnal).

Dalam kalimat sederhana, adalah bahwa, seseorang seolah-olah berpikir menggunakan akal sehatnya (kognisi), namun sebenarnya menyimpang (tidak sehat). Dan dari cara berpikir, akan mempengaruhi bagaimana sikap dan tindakan dari seseorang.

Oleh karena itu, marilah pahami kondisi ini, tumbuhkan empati dan belajar untuk lebih peduli, dan luruskan pikiran, hilangkan egoisme dan egosentrisme, sebab tidak ada yang menginginkan pandemi ini untuk terjadi.

Dan Allah Subhanahu wa ta’ala, tidak mungkin akan mengijinkan ini untuk terjadi, jika bukan untuk mengantarkan manusia pada hikmah hidup di dunia dan akhir