Kuliah di Jerman Tak Semahal yang Dibayangkan

oleh -2 views
Ilustrasi (dw.de)
Arrief Ramdhani
Ilustrasi (dw.de)
Ilustrasi (dw.de)

KULIAH di luar negeri tak semahal yang dibayangkan. Jerman adalah salah satu negara yang menawarkan pendidikan berkualitas namun berbiaya rendah. Di sejumlah kota bahkan menerapkan kebijakan nol biaya alias gratis. Dengan demikian,  seorang mahasiswa hanya menanggung biaya hidup dan asrama.
“Kalau pun yang bayar, semahal-mahalnya 500 euro per semester; Rp6-7 juta,” kata Annie Theodora, pendiri sekaligus Direktur Go Deutschland, kepada VIVAnews, di Jakarta, Senin, 8 April 2013.

Go Deutschland, lembaga konsultasi sekaligus agen pengirim calon mahasiswa Indonesia untuk tujuan kuliah di Jerman, meyakinkan tentang sejumlah kelebihan untuk studi di negeri para filsuf itu. Di antaranya, kualitas pendidikan yang merata di hampir seluruh kota di Jerman.

Menurut Annie, karena alasan meratanya kualitas pendidikan di Jerman, hampir tak ada universitas atau perguruan tinggi yang dapat disebut terbaik dari yang terbaik. “Tidak seperti, misalnya, kalau di Amerika yang lebih dikenal Harvard University.” Persepsi publik pada pendidikan di Jerman cenderung mengindetifikasi berdasarkan kota. “Misal, Berlin atau Muenchen (Munich).”

Tetapi, imbuh Annie, memang ada perguruan tinggi tertentu yang memiliki spesifikasi di bidang keilmuan tertentu. Misalnya, Ludwig-Maximilians University of Munich atau Technical University of Munich yang memiliki spesifikasi di bidang teknologi. “Semacam Institut Teknologi Bandung.”

Annie menjelaskan, persyaratan utama untuk kuliah di negara yang pernah dipimpin Adolf Hitler itu, selain pintar, harus memiliki kemampuan berbahasa Jerman. Saat pengajuan visa, calon mahasiswa harus menjalani tes kemampuan berbahasa Jerman. Kemampuan berbahasa itu sangat penting karena proses belajar-mengajar di jenjang strata 1 dilakukan dalam bahasa Jerman.

Go Deutschland menawarkan les privat yang dikebut selama dua bulan bagi calon mahasiswa yang belum pernah belajar bahasa Jerman. Mereka akan dipastikan mampu berbicara dalam bahasa Jerman meski baru pada tingkat dasar.

Setelah lolos tes bahasa dan visa telah diterbitkan, kata Annie, calon mahasiswa harus ikut kelas bahasa Jerman tingkat lanjutan. Proses itu harus dilalui hingga menjelang waktu kuliah pada September-Agustus.

Les bahasa Jerman yang ditawarkan Go Deutschland berbeda dengan lembaga konsultasi pendidikan lain. Sebab, pihaknya berkoneksi dengan perguruan tinggi, sehingga calon mahasiswa tidak hanya mahir berbahasa, tetapi juga paham istilah-istilah bahasa Jerman untuk program studinya.

Selain belajar bahasa, calon mahasiswa yang ditangani Go Deutschland juga dibekali persiapan dasar tes masuk perguruan tinggi. Calon mahasiswa diajari menjawab soal-soal tes agar bisa lolos seleksi.

Setelah dinyatakan lolos oleh perguruan tinggi bersangkutan, mereka langsung menjadistudien college dan tinggal di asrama masing-masing. Selama studien college atau pra-universitas, mahasiswa tidak dipungut bayaran.

“Mereka ikut studien college selama satu tahun secara gratis. Setelah itu, siap-siap tes universitas yang sesungguhnya. Biayanya pun tak mahal, rata-rata perguruan tinggi di Jerman memungut biaya kuliah sekitar 500 euro per semester,” ujarnya.

Munich direkomendasikan

Kota Munich, kata Annie, lebih direkomendasikan bagi mahasiswa baru. Sebab, kota itu lebih aman dan nyaman untuk belajar, terutama mereka yang baru pertama sekolah di Jerman. “Di Munich juga banyak lembaga bahasa yang terbaik. Jadi akan lebih memudahkan bagi mahasiswa baru untuk belajar bahasa.”

Annie menyarankan calon mahasiswanya untuk memilih perguruan tinggi di Munich yang suasananya sangat kondusif ketimbang di kota besar seperti Berlin.

“Biaya hidup di Munich memang 1-2 euro lebih mahal dibanding Berlin. Tetapi, suasananya yang tenang dan aman lebih bagus buat anak-anak belajar ketimbang di Berlin yang suasananya sangat metropolitan,” ujarnya.

Soal biaya hidup, Annie tak menyebut angka persis sebab hal itu bergantung pada gaya hidup masing-masing orang. Namun, dengan dana sebesar Rp7 juta per bulan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bayar asrama. Jika ingin menambah uang saku, pemerintah Jerman memberi keleluasaan bagi mahasiswa untuk kerja paruh waktu.

“Pemerintah Jerman memberi waktu maksimal 20 jam per bulan bagi para mahasiswa untuk bekerja sampingan seperti jaga toko, pengasuh bayi, atau cuci piring di restoran. Lumayan untuk menambah biaya hidup sehari-hari,” katanya.(nasional.news.viva.co.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.