Konstruktivisme dalam Kurikulum 2013

oleh -9 views
Ilustrasi Kurikulum 2013
Arrief Ramdhani

kurikulum2013aKURIKULUM 2013 yang mulai diterapkan pada tahun pelajaran 2013/2014 sesungguhnya adalah proses yang harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengamati, menanya, menganalisis, menguji coba, dan mengomunikasikan. Kurikulum 2013 dilakukan melalui proses konstruktivisme, yang berbeda dengan kurikukum verbalistik yang sekadar mengandalkan komunikasi satu arah dan hafalan.

Hal tersebut disampaikan Ketua Unit Implementasi Kurikulum, Tjipto Sumadi dalam diskusi yang digelar di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Jumat (14/3/2014). Hadir pula Kepala SMA Negeri 3 Jakarta, Diah Khaerani sebagai narasumber, kepala sekolah yang telah menerapkan Kurikulum 2013 pada tahun pelajaran 2013/2014.

Tjipto mengatakan, Kurikulum 2013 sesungguhnya berbasis pada kurikulum konstruktivisme, yang artinya membangun jiwa anak. Konstruktivisme berarti siswa diajak untuk turut serta dalam pembelajaran itu sendiri. “Murid memegang alat, guru mengarahkan,” ujar Tjipto di hadapan puluhan peserta diskusi.

Contoh pembelajaran berbasis Kurikulum 2013 yang cukup baik sudah dilakukan di sekolah di Kalimantan. Pada pembelajaran tentang benda-benda penghantar panas yang baik, siswa diminta untuk mengumpulkan berbagai macam benda, mulai dari ranting pohon, sedotan plastik, kertas, dan lain-lain. “Siswa mencoba sendiri apakah benda-benda itu menjadi penghantar panas yang baik ketika ujung benda didekatkan ke sumber panas. Siswa yang melakukan, bukan diberi tahu oleh gurunya,” ucap Tjipto.

Ia juga mencontohkan pembelajaran berbasis konstruktivisme yang dilakukan di salah satu sekolah tingkat dasar di Amerika Serikat. Di sana siswa diajarkan untuk menanam kentang, yang merupakan salah satu makanan pokok masyarakat di negara tersebut. Guru mengarahkan siswa mulai menanam dan merawat tanaman tersebut.

Selain menanam, siswa juga diajarkan sikap mencintai lingkungan dengan tidak menggunakan pupuk non-organik untuk menyuburkan tanaman. “Maka, guru menernakkan cacing dan siswa diminta untuk mengambil cacing dengan tangannya dan meletakkan pada tanaman kentang yang ditanam tadi,” imbuh Tjipto.

Ia menambahkan, hal-hal tersebut yang diterapkan pada Kurikulum 2013. Tahun ini Kurikulum 2013 diterapkan untuk kelas 1, 2, 4, 5 SD/sederajat; VII, VIII SMP/sederajat; dan X, XI SMA/SMK/sederajat.(kemdikbud.go.id)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.