Kisah Perjuangan Ezri dari Timur Indonesia yang Ikut Program IISMA ke Italia

waktu baca 4 menit
Sabtu, 17 Jun 2023 11:10 0 145 Ojhon Sundanesse

SIAPBELAJAR.COM – Program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) merupakan salah satu program implementasi kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang telah berhasil memberikan dampak nyata dalam menghadirkan inovasi pembelajaran yang bisa diikuti oleh mahasiswa di seluruh Indonesia.

Dampak nyata yang sudah dirasakan dari pelaksanaan Program IISMA salah satunya adalah waktu tunggu untuk para alumni program ini yang mendapatkan pekerjaan lebih baik dan lebih cepat ketika mereka lulus. Waktu tunggu alumni IISMA mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah hanya sekitar 0,3 bulan (rata-rata nasional empat bulan) dengan gaji pertama sebesar 1,88 kali Upah Minimum Provinsi (rata-rata nasional 0,72 kali UMP).

Dengan memberikan kesempatan belajar di perguruan tinggi luar negeri terkemuka selama satu semester, Program IISMA kemudian menjadi jembatan untuk mahasiswa Indonesia selangkah lebih dekat dengan impian mereka, salah satunya seperti yang dirasakan oleh Ezri Trifena Oraple, mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong, Papua Barat Daya.

Ezri, sapaan akrabnya, merupakan satu dari ribuan mahasiswa yang berhasil lolos seleksi untuk menjadi peserta Program IISMA Angkatan 3 tahun 2023. Putri asli Papua kelahiran Sorong, 17 Agustus 2003 ini berhasil mendapatkan kesempatan untuk belajar selama satu semester di University of Padova, Italia.

Pembuatan Website

Lahir dan besar di Sorong, Ezri yang tumbuh di tengah keluarga yang sangat sederhana memiliki cita-cita untuk menjadi seorang polisi wanita (polwan). Namun, takdir berkata lain yang mengarahkan Ezri untuk masuk ke dunia pendidikan dengan berkuliah di Unimuda dan menempuh program studi pendidikan bahasa inggris.

“Meskipun bercita-cita sebagai polwan, saya sejak sekolah dasar (SD) sudah jatuh cinta dengan pelajaran bahasa inggris. Waktu itu, fasilitas pendukung di sekolah masih kurang sehingga selain belajar di kelas, saya juga mendengarkan musik berbahasa inggris dan mencatat kosa kata penting untuk selanjutnya saya praktikkan secara mandiri di depan cermin,” cerita Ezri.

Adanya kekurangan dalam fasilitas penunjang pendidikan ketika sekolah dulu kemudian menjadi motivasi bagi Ezri untuk di kemudian hari memiliki ilmu dan pengalaman yang cukup agar bisa berkontribusi bagi peningkatan kualitas pendidikan di tempat tinggalnya.

Bak gayung bersambut, motivasi tersebut didukung dengan hadirnya kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran berbasis minat di luar kelas, salah satunya adalah program IISMA.

“Saya sudah sangat tertarik untuk bergabung dengan IISMA sejak tahun pertama saya masuk perkuliahan. Namun, saya tahu bahwa seleksinya sangat ketat dan oleh sebab itu saya harus melakukan banyak persiapan untuk tidak hanya mendaftar, tapi juga agar bisa lolos seleksi,” tuturnya.

Salah satu persiapan yang Ezri lakukan adalah dengan mengikuti kelas perkuliahan di perguruan tinggi lain melalui Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM). Ketika mengikuti program ini di tahun 2022, ia berkesempatan untuk belajar selama satu semester di Universitas Negeri Malang (UM).

Selama berkuliah di UM, Ezri menghadiri kelas dan diajarkan langsung oleh dosen yang berasal dari luar negeri. Dalam mata kuliah tersebut, ia banyak mendapatkan ilmu dan arahan untuk menyusun esai dan praktik public speaking yang sangat membantu selama proses pendaftaran dan seleksi Program IISMA.

“Selain mendapatkan ilmu dari kelas, pengalaman saya selama di UM, saya belajar keberagaman budaya Indonesia dan mendorong saya untuk bisa berperan sebagai duta yang menyebarkan semangat muda pemuda-pemudi dari wilayah bagian timur Indonesia kepada teman-teman saya di Malang,” jelas Ezri.

Motivasi dan harapan Ezri selama belajar di di University of Padova nantinya adalah untuk bisa menginspirasi generasi muda Papua agar bersemangat belajar. “Sebagai peserta IISMA, saya sadar bahwa saya juga memiliki peran penting untuk menjadi duta bangsa yang menjadi ‘wajah’ Indonesia di luar negeri nanti. Tapi, saya harap keberangkatan saya juga bisa memotivasi teman-teman dan adik-adik saya yang ada di Papua untuk berani memimpikan hal besar dan meyakini bahwa kita juga bisa meraih mimpi tersebut,” ucapnya.

Di akhir ceritanya, Ezri juga memiliki cita-cita untuk berkontribusi secara nyata dalam pembangunan daerahnya sepulang dari luar negeri, khususnya dalam aspek pendidikan. Cerita Ezri yang merupakan putri asli Papua yang berhasil belajar di luar negeri ini merupakan satu dari sekian banyak kisah inspiratif dari pelaksanaan program IISMA. Tercatat, hingga tahun 2022 lalu terdapat lebih dari 2.500 putra-putri terbaik bangsa yang diberangkatkan ke luar negeri untuk belajar di berbagai perguruan tinggi terkemuka di seluruh dunia.

Dengan berbagai catatan baik tersebut, Kemendikbudristek terus berupaya untuk bisa memperluas dampak dan manfaat program ini agar bisa dirasakan oleh lebih banyak mahasiswa. Oleh sebab itu, pada tahun 2023, program IISMA akan kembali mengirimkan lebih dari 1.600 mahasiswa ke berbagai penjuru dunia.

Mengingat tingginya animo mahasiswa, perguruan tinggi dalam negeri, dan juga mitra perguruan tinggi luar negeri; Kemendikbudritsek akan meluncurkan Program IISMA dengan skema pendanaan bersama atau Co-funding. Kepala Program IISMA, Rachmat Sriwijaya menyampaikan bahwa perjalanan pelaksanaan Program IISMA telah dirasakan manfaatnya oleh ribuan mahasiswa di seluruh Indonesia. Ia yakin jika dampak baik ini akan menjadi kunci penting bagi Indonesia dalam mempersiapkan talenta-talenta terbaik bangsa untuk ke depannya memiliki kesiapan yang matang untuk memimpin bangsa kita.

Ojhon Sundanesse

Moal Kumeok Memeh Dipacok

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA