Kepala MAN I Subang Bolak Balik Subang-Purwakarta

oleh -24 views
Dra.Yayan Irmayana ditengah pasikbraka MAN I Subang.
Arrief Ramdhani
Dra.Yayan Irmayana ditengah pasikbraka MAN I Subang.
Dra.Yayan Irmayana ditengah pasikbraka MAN I Subang.

WANITA yang satu ini boleh dibilang sangat luarbiasa. Bagaimana tidak, tanpa mengenal lelah Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Subang ini tiap hari harus pulang pergi Subang-Purwakarta dengan jarak tempu sekitar 120 Km. Tentu bukan main-main, sebab bisa menimbulkan kelelahan. Disisi lain  dia harus tetap fresh, karena berhadapan dengan guru dan siswa yang menuntut pimpinannya harus tetap bugar, energik dan produktif.

Namun ternyata tak masalah bagi Dra. Yayan Irmayana, karena bisa bekerja sebagaimana mestinya. Bahkan jauh melebihi para pengajar, staf dan siswa, karena selalu berada dikantor lebih dulu.  “Ibu biasanya pergi dari rumah sekitar pukul 05.00 kurang, sampai di sekolah kurang lebih pukul 6.00. Pulang dari sekolah biasanya dilakukan sekitar pukul 16.00. Begitulah tiap harinya kecuali hari libur. Rumah ibu di Purwakarta, sementara kantor di kota Subang ini,” ujarnya.

Ibu satu anak buah perkawinannya dengan Drs. H. MS Rosyadi ini, mengaku enjoy-enjoy saja meski harus pulang pergi yang berjarak cukup jauh itu. “Yang penting hati selalu nyaman, sehingga tak merasa berat untuk dilakoni.”

Telah lebih dari tiga tahun Yayan Irmayana menjabat sebagai Kepala MAN I Subang. Mungkin bagi kebanyakan orang, tinggal jauh dari tempat kerjanya sedikit banyak bisa mengganggu pekerjaan, paling tidak produktivitas akan menurun, sehingga focus pekerjaan dapat berkurang. Namun tidak demikian dengan wanita yang berusia hampir setengah baya ini, sebab nyatanya MAN I Subang yang ia pimpin tetap mampu berprestasi dengan lebih baik.

Bukan hanya itu, kegiatan belajar mengajar di madrasah tersebut berjalan sesuai dengan aturan. Tidak ada staf atau guru yang komplen, atau ada siswa merasa kepala sekolahnya sering mangkir karena Ibu Yayan sering kesiangan. Dengan kata lain mengakibatkan tidak mampu memimpin sekolah karena  terkuras oleh energy diperjalanan.

Dapat dipastikan, tidak terjadi semua itu. Dibawah kepemimpinan Yayan Irmayana, MAN I Subang pada kenyataannya  mampu memperlihatkan prestasi yang tidak sembarangan diraih. Dari sisi akademik, sekolah ini berkali-kali menjuarai olimpiade tingkat Jawa Barat dan selalu berada dalam 10 besar di Jawa Barat.

Prestasi yang tidak kalah prestiusnya, lulusan MAN I Subang banyak diterima di Perguruan-Perguruan Tinggi Negeri favorit, seperti diterima di UPI, UNPAD, UIN atau dulu IAIN Sunan Gunung Jati. Dengan demikian, siswa-siswa MAN I Subang bisa bersaing dengan lulusan sekolah umum yang ada di Subang. Ini tentu saja sesuatu yang membanggakan yang tidak mudah diraih oleh kepala sekolah kebanyakan, kecuali mereka-mereka yang memang punya kemampuan dan kapasitas.

Gaya kepemimpinan Yayan boleh jadi sangat disukai oleh para staf, guru dan siswa di MAN I Subang ini. Sebagai seorang wanita, ia dinilai lembut dan mengayomi. Gaya kepemimpinan inilah yang telah menciptakan suasana nyaman, sehingga situasi didalam sangat kondusif, baik dirasakan oleh para staf, guru-guru maupun siswa MAN sendiri.

Yayan Irmayana mulai mengajar sebagai guru MAN berawal dari Purwakarta, setelah lulus dari UIN Bandung sekitar tahun 1990. Kariernya terus berkembang, tahun 1991 diangkat menjadi Wakil Kepala Sekolah MAN Purwakarta dalam banyak bidang, mulai dari Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana, Kurikulum sampai Bidang Humas. “Ibu menjalani sebagai kepala sekolah sampai tahun 2005,” katanya.

Dari Purwakarta kemudian pindah ke Subang dan sejak tahun 2009 menjabat sebagai Kepala Sekolah MAN I Subang. “Tentu saja saya harus bersyukur, sebab telah diberi kepercayaan untuk memimpin sekolah yang terkait dengan agama. Memang sejak SMA dulu, ibu punya cita-cita menjadi guru yang berada dilingkungan pendidikan agama,” kata Yayan Irmayana.

Yang membuat itu ada dalam pikirannya, karena Yayan sendiri besar dilingkungan yang tidak jauh dari kegiatan agama. Orang tuanya, H. Encep, tokoh koperasi di Kecamatan Pabuaran mengharuskan dirinya untuk belajar mengaji sejak remaja dan harus aktif dipengajian-pengajian yang ada dilingkungan tempat tinggalnya.

Dari sanalah jiwanya terbentuk, sehingga ketika masuk SMA bisa memberikan les privat ngaji pada remaja-remaja seusianya. “Saat SMA itulah muncul keinginan yang keras untuk melanjutkan ke UIN dan kemudian bisa mengabdikan diri dalam institusi sekolah dibawah kementrian agama. Alhamdulillah terlaksana,” ujarnya.

Ada pepatah mengatakan buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Kini anaknya, HM. Suryana, MA,MPd mengikuti jejak dirinya, yaitu berkiprah sebagai pengajar disalah satu MAN Purwakarta. Suami Yayan sendiri adalah Kepala KUA Kecamatan Campaka, Purwakarta. (TM).***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.