Kemendikbud Wajibkan Lulusan SMK Bersertifikat Keahlian

oleh -1 views
Ilustrasi (solopos.com)
Arrief Ramdhani
Ilustrasi (solopos.com)
Ilustrasi (solopos.com)

DIREKTUR Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kemendikbud, Mustaghfirin Amin, mengungkapkan, di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 mendatang, para pekerja harus memiliki keahlian dengan sertifikasi sebagai bukti penguasaan keahlian tertentu.

Dalam kaitan itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mewajibkan setiap lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang mengikuti ujian nasional 2015 untuk memiliki sertifikat keahlian.

“Sehingga setelah mereka lulus sudah punya bukti berupa dokumen untuk bekerja. Sertifikasi akan menjadikan lulusan SMK punya daya saing menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN,” ujarnya seusai penandatanganan kerjasama dunia industri dengan instansi pendidikan di Solo, Rabu (5/11/2014).

Proses sertifikasi sendiri, menurut Direktur Pembinaan SMK itu, dilakukan secara independen oleh SMK bekerja sama dengan mitra industri atau oleh SMK bersama mitra strategis dan lembaga sertifikasi profesi.

Cakupan bidang keahlian yang disertifikasi meliputi 128 paket keahlian yang ada di SMK. Namun, karena jumlah SMK seluruh Indonesia mencapai 11.720, maka tidak memungkinkan pelaksanaan sertifikasi tidak mungkin dilakukan di setiap sekolah secara bergantian.

“Cara itu akan memakan waktu sangat lama. Sehingga pelaksanaannya dibuat sistem klaster dan Kemendikbud menunjuk 1.650 SMK sebagai sekolah rujukan yang mengkoordinasi 5-10 SMK di suatu wilayah. SMK yang sudah disertifikasi menjadi rujukan quality control dan quality insurance yang akan membantu SMK lain mendapatkan sertifikasi. Sekolah rujukan adalah sekolah yang punya prestasi baik dan mutunya juga terjamin,” katanya.

Di Kota Solo ada 3 SMK yang menjadi sekolah rujukan, yaitu SMK 2, SMK 4, dan SMK 5. Langkah lain agar lulusan SMK siap bersaing di dunia kerja adalah dengan menata bidang keahlian di SMK. Semua SMK didorong punya mitra strategis dengan dunia industri. SMK harus melibatkan industri karena lulusan SMK akan bekerja di bidang industri.

“Kemendikbud juga menata kurikulum. Saat ini seluruh materi dan bahan pembelajaran sudah terstandardisasi,” ungkapya.

Menyinggung penyerapan lulusan SMK ke dunia kerja, Mustagnfirin menyatakan, cukup menggembirakan. Siswa yang lulus pada Juli biasanya pada Agustus rata-rata 86 persen lulusan sudah mendapat pekerjaan dan pada Februari tahun berikutnya 90 persen sudah bekerja.(pikiran-rakyat.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.