Kemendikbud: Klasterisasi Bukan Kompetisi

oleh -19 views
Ilustrasi
Arrief Ramdhani

KEMENTERIAN  Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menetapkan Klasterisasi Perguruan Tinggi (PT) 2020. IPB University, Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (Unair), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) berada di klaster pertama secara berurutan.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Nizam, menegaskan, klasterisasi perguruan tinggi bukanlah sebuah kompetisi maupun pemeringkatan. “Melainkan untuk mengelompokkan perguruan tinggi sesuai dengan level perkembangannya, dan kemudian untuk dilakukan pembinaan,” kata dia dalam taklimat media secara daring di Jakarta, Senin (17/8).

PERKEMBANGAN VIRUS CORONA

Berita Selengkapnya

Pada tahun ini klasterisasi diikuti 2.136 perguruan tinggi di Indonesia. Menurut Nizam, klasterisasi perguruan tinggi tersebut bertujuan untuk mengetahui capaian dan kekurangan perguruan tinggi. Hal ini agar bisa melakukan peningkatan mutu perguruan tinggi secara terus-menerus.

“Karena mutu itu tidak ada batasnya. Di atas yang terbaik, pasti akan selalu ada perbaikan,” ujar Nizam. Dia menambahkan, Kemendikbud membagi klaster perguruan tinggi tersebut menjadi lima. Klaster tertinggi adalah klaster satu. Pengelompokan perguruan tinggi tersebut tidak membedakan perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Sebanyak 15 PTN yang masuk ke dalam klaster satu yakni IPB University, UI, UGM, Unair, ITB, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Universitas Hasanuddin. Selanjutnya, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, Universitas Padjajaran, Universitas Sebelas Maret, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Andalas, Universitas Sumatera Utara, dan Universitas Negeri Malang.

“Dengan pengklasteran ini, maka setiap perguruan tinggi mengetahui posisinya di klaster mana, dan mengetahui apa yang harus ditingkatkan. Misalnya klaster satu, berarti memiliki tantangan yang cukup besar untuk meningkatkan dirinya tahun depan. Tantangannya input dan proses lebih baik lagi,” ujar Nizam.

Indikator Klasterisasi Perguruan Tinggi tahun 2020 dibagi menjadi empat yaitu input, proses, output dan outcome. Persentase dosen berpendidikan doktor (S3), persentase dosen dengan jabatan lektor kepala dan guru besar, rasio jumlah mahasiswa terhadap dosen, jumlah mahasiswa asing, dan jumlah dosen bekerja sebagai praktisi di industri, masuk dalam indikator input.

Pada 2019, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir saat itu mengatakan, klasterisasi perguruan tinggi bisa dijadikan salah satu rujukan mendatangkan rektor asing. Salah satu alasan Kemenristekdikti ingin mendatangkan rektor asing adalah untuk mendongkrak ranking perguruan tinggi Indonesia di dunia.

Rektor IPB University, Arif Satria, mengatakan, prestasi tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh warga IPB University dan stakeholder terkait. Dia menyatakan, prestasi ini akan menjadi penyemangat semua pihak di IPB University untuk memberi yang terbaik bagi bangsa ini.

“Ini adalah hasil kerja keras kita semua. Saya mengapresiasi seluruh civitas akademika, tenaga kependidikan, dan alumni yang terus kompak memajukan IPB University,” kata dia.(republika.id)