Kemendikbud Berikan Bantuan kepada Pelajar Indonesia di India

oleh -3 views

Sejak 26 Maret 2020, Pemerintah India menerapkan kebijakan karantina wilayah (lockdown) karena pandemi Covid-19. Hal ini berdampak kepada warga negara Indonesia (WNI) yang berada di India, termasuk para pelajar. KBRI New Delhi kemudian secara aktif melakukan penyaluran bantuan berupa logistik kesehatan, bahan pangan, dan kebutuhan dasar lainnya kepada WNI yang tersebar di berbagai wilayah India.  KBRI New Delhi melalui Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) juga memberikan dukungan akademis kepada para pelajar Indonesia yang berada di beberapa universitas yang menjadi titik konsentrasi pelajar Indonesia di India.

Bantuan diberikan kepada para pelajar Indonesia yang berada di berbagai konsentrasi, yaitu Delhi NCR, Uttar Pradesh, Punjab, Himachal Pradesh, West Bengal, Karnataka, Tamil Nadu, Madya Pradesh, dan Kerala. Berdasarkan data, jumlah pelajar di daerah-daerah tersebut mencapai 242 orang. Namun sebanyak 127 orang di antaranya sudah kembali ke Tanah Air melalui program repatriasi maupun pulang sebelum diterapkannya kebijakan karantina wilayah di India.

KBRI New Delhi juga membangun komunikasi aktif dengan anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India yang masih tertahan di India untuk memastikan kondisi mereka dalam keadaan baik. Bersama Ketua PPI India, yakni Fikri, seorang mahasiswa di Aligarh Muslim University, KBRI New Delhi berkesempatan untuk menyapa dan mengetahui kondisi serta potensi para mahasiswa Indonesia, sekaligus memberikan bantuan kepada mereka. Saat menjenguk para pelajar Indonesia, Atdikbud KBRI New Delhi, Lestyani Yuniarsih, mengimbau pelajar agar tetap fokus dalam menuntut ilmu dan senantiasa mematuhi peraturan atau regulasi, serta bersikap kooperatif kepada otoritas setempat.

Kegiatan menjenguk langsung para mahasiswa Indonesia dengan membawakan bantuan tersebut dilaksanakan Atdikbud KBRI New Delhi melalui Program Outreach. Tim Atdikbud KBRI New Delhi tetap antusias harus menempuh perjalanan darat selama sekitar 26 jam untuk tiba di lima kota dari dua state, yakni Punjab (Mohali, Jalandarh, dan Ludhiana) dan Himachal Pradesh (Shimla dan Dharamsala). Program Outreach menyalurkan bantuan kepada para pelajar Indonesia yang berada di wilayah-wilayah tersebut.

Vivi Siskayanti adalah salah satu mahasiswa yang mendapat kunjungan dan bantuan dari Atdikbud KBRI New Delhi dalam Program Outreach. Senyum gembira bercampur haru terpancar di wajah Vivi saat pertama kali bertemu dengan perwakilan KBRI New Delhi di Dharamsala, sebuah pusat kota yang menjadi tempat tinggal bagi para pengungsi Tibet di India dan rumah untuk seorang tokoh dunia, Dalai Lama ke-14.

Vivi menjadi satu-satunya pelajar asal Indonesia yang menekuni jurusan seni lukis Thangka Arts di Institute of Tibetan Thangka Arts, Dharamsala, atas biaya sendiri. Seni lukis Thangka biasanya berbahan dasar kain sutra yang bersulam dan menggambarkan figur dan tokoh suci Buddha, persitiwa ataupun mandala. Tidak tanggung-tanggung, Vivi harus melewati durasi belajar selama lima tahun untuk menjadi pakar dalam bidang seni lukis Thangka, dan saat ini sudah tahun ke-2 bagi Vivi.

“Aku terharu sekali bisa jumpa dengan sesama orang Indonesia, apalagi dikunjungi KBRI New Delhi, rasanya jadi obat rindu dengan keluarga di Tanah Air. Terima kasih banyak atas bantuan dan perhatian Bapak/Ibu di KBRI yang sudah mau datang jauh-jauh ke pelosok pegunungan Dharamsala,” ujar Vivi yang berasal dari Kisaran, Sumatra Utara.

Selain Vivi, ada dua pelajar Indonesia lainnya di Dharamsala yang memperoleh beasiswa Kadam Choeling Indonesia di bawah Yayasan Wilwatikta, yaitu Fitri dan Farianto. Mereka juga memilih untuk tidak kembali ke Indonesia selama situasi pandemi Covid-19. Fitri adalah mahasiswi yang mendalami Bahasa dan Filosofi Tibet di Library of Tibetan Works and Archives, sedangkan Farianto adalah mahasiswa jurusan Tibetan Philosophy di Gyuto Monastery Buddhist Dharamsala. Mereka memutuskan untuk tetap berada di Dharamsala karena alasan kesibukan akademis dan keamanan jika harus melakukan perjalanan jauh untuk pulang ke Indonesia. Selain itu, tidak tersedianya penerbangan internasional reguler juga menjadi alasan utama untuk tetap berada di Dharamsala.

Bantuan juga diterima oleh Epti W Sejati, mahasiswa S2 jurusan Journalism and Mass Communication di Himachal Pradesh University (HPU), di Shimla. Menurutnya situasi pandemi ini mengakibatkan terhambatnya proses akademis di kampusnya, di mana semua mahasiswa diharuskan mengosongkan asrama, tidak terkecuali mahasiswa asing. Untuk itu, Epti terpaksa harus keluar dari asrama kampus dan menyewa kamar kos yang dekat sekitar kampus. Namun, menurut mahasiswi asal Klaten itu, lingkungan di Shimla yang merupakan salah satu destinasi wisata popular di India yang relatif aman untuk dijadikan tempat belajar. Selain pemandangan alam yang indah, Epti mengaku banyak temannya dari negara lain dan lokal India yang membantunya selama masa pandemi Covid-19 ini.

Program Outreach menjadi salah satu bentuk kepedulian dan perlindungan bagi WNI di India, khususnya dalam menghadapi situasi pandemi Covid-19. Atdikbud KBRI New Delhi menjadi perpanjangan tangan pemerintah dengan membuktikan bahwa negara hadir dalam situasi sulit yang dihadapi WNI. (kemdikbud)