Kelas Digital Masih Terkendala Fasilitas

Friday 06 February 2015 , 5:00 AM
Ilustrasi

Ilustrasi

RENCANA mengadakan kelas digital di setiap sekolah masih terkendala fasilitas. Salah satu konsep dari kelas digital ini adalah mengadakan ujian bersama secara online.
Terutama bagi sekolah dasar(SD) siswa masih butuh dibimbing. Menurut Guru kelas 6 SDN Soka 3 Sri Pujiati, saat pengerjaan uji coba ujian online anak-anak dipandu dalam mengerjakannya. Bagaimana cara memasukkan password di setiap soal mata pelajaran dan cara pengerjaannya.

Sri mangatakan, sudah tiga kali dilakukan uji coba ujian online ini untuk mata pelajaran IPA, Matematika, dan Bahasa Indonesia. “Sejauh ini, asyik-asyik saja dengan sistem yang baru, anak-anak pun anteng mengerjakannya,” katanya, Selasa (3/2).

Akan tetapi, menurutnya, sistem ini masih terkendala dari segi fasilitas. Ketika uji coba pada Senin (2/3) lalu tidak bisa menggunakan laboratorium komputer. Karena, dipakai oleh kelas bawah yang sedang belajar TIK.

Sementara di kelasnya, hanya ada lima siswa yang membawa laptop dan satu di antaranya tidak bisa dioperasikan. “Jadi ada empat laptop digunakan secara berkelompok. Kan tidak semja punya,” ujar Sri.

Kendala lain adalah jaringan internet wi-fi yang terbatas. Sehingga ketika menggunakan internet lambat sekali. Sedangkan, kata Sri, jaringan internet yang bisa digunakan hanya operator Telkomsel. Sedangkan, masih banyak yang belum menggunakan operator tersebut.

“Dari segi listrik juga belum kuat. Ketika semua menggunakan listrik, akhirnya mati dan pengerjaan soal dimulai lagi dari awal,” katanya.

Ke depannya, akan ada uji coba kelas digital. Sri mengatakan, ada 24 siswa kelas 6 yang mengikuti kelas tersebut. Minimal para siswa yang paham komputer dan memiliki wawasan ilmu yang bagus.  “Kemungkinan nanti akan menggunakan laboratorium komputer,” uajr Sri. Meskipun masih banyak kendala, tapi dia mengungkapkan, siap tidak siap harus dijalankan karena ini tuntutan pendidikan.

Begitupun di SD Swasta Cipaera, uji coba ujian online telah dilaksanakan. Akan tetapi, tidak semua siswa kelas 6 mengikutinya, hanya empat perwakilan saja.

Hal tersebut menurut Guru kelas 6 Dede, masih terkendala fasilitas. “Kemarin uji coba menggunakan laptop guru. Dengan kondisi wi-fi rusak, akhirnya menggunakan modem,” ujar Dede.

Menurut Dede, untuk menjalankan kelas digital ini belum memungkinkan. “Mungkin bagi sekolah-sekolah yang sudah mampu dulu saja. Tetapi, minimal anak-anak sudah kenal dulu saja dengan sistemnya,” kata Dede.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Elih Sudiapermana mengatakan, sistem kelas digital ini memang tidak diwajibkan dan akan dilaksanakan secara bertahap. Tujuannya, ingin mengenalkan dan memotivasi budaya baru dahulu dalam belajar.

Di era digital global ini, akses belajar berubah dan berkembang banyak. “Supaya masyarakat, anak-anak, dan guru tahu sekarang sumber belajar tidak hanya dari guru di kelas saja,” kata Elih.

Upaya ini juga sebagai penyadaran bahwa kita ada dalam budaya digital dan ada paradigma baru pembelajaran. Kita perkenalkan juga ujian bersama online. Ketika ujian tidak lagi membutuhkan kertas, hanya tinggal beli pulsa.

Penerapan sistem ini, kata Elih, hanya bagi sekolah yang bersedia dulu saja. Sambil mengukur kesiapan setiap sekolah seperti apa. Tidak harus setiap siswa membeli laptop, tablet, dan sebagainya.

Ke depannya, kata Elih, akan ada penambahan fasilitas untuk kelas digital ini. Akan ada 10 kelas yang  dibantu penambahan fasilitasnya. Penentuan sekolah akan dilihat nanti mana yang suap memelihara fasilitas tersebut dan mampu berlangganan.

“Anggarannya sudah diajukan Rp 1,5 miliar. Tetapi, belum ketok palu. Tidak banyak juga mengajukannya marena masih banyak kebutuhan dana lain,” kata Elih.(republika.co.id)

Comments are closed.