Kelas Akselerasi SMA Dihapus 2015

oleh -8 views
Ilustrasi
Arrief Ramdhani
Ilustrasi
Ilustrasi

KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengisyaratkan, pada 2015 mendatang akan menghapus kelas akselerasi untuk siswa kategori “cerdas istimewa” di jenjang SMA.

Pertimbangan penghapusan itu adalah, siswa “cerdas istimewa” tidak perlu ditempatkan dalam kelas eksklusif, karena dalam kurikulum 2013 ada sistem satuan kredit semester (SKS) di jenjang SMA.

”Sekolah yang tahun 2014 masih menyelenggarakan kelas akselerasi, boleh menuntaskan sampai siswa tersebut lulus. Namun pada tahun ajaran baru 2015/2016, tidak ada lagi kelas akselerasi di SMA dan SMK,” ujar Dirjen Pendidikan Menengah Kemendikbud, Prof. Dr. Achmad Jazidie kepada wartawan, di sela sosialisasi Kurikulum 2013 di Solo, Rabu (8/10/2014).

Menurut dia, dengan sistem SKS para siswa “cerdas istimewa” akan bisa menyelesaikan studi lebih cepat dibanding siswa pada umumnya. Penggabungan siswa cerdas istimewa di kelas reguler, diharapkan dapat ilmu pengetahuannya dapat berimbas kepada siswa lain.

”Mereka yang cerdas istimewa, dengan mengambil mengambil mata pelajaran lebih banyak dari siswa lain akan bisa lulus dalam dua tahun. Namun mereka tidak dipisahkan secara eklusif,” jelasnya.

Di Jawa Tengah saja, berdasarkan data Kemendikbud, terdapat 14 SMA di 12 kabupaten/kota yang membuka kelas akselerasi. Menanggapi isyarat itu, Kepala SMA Negeri 3 Solo, Makmur Sugeng, menyatakan tidak setuju penghapusan kelas akselerasi. Dia beralasan, pemerintah maupun sekolah belum memiliki wadah khusus untuk mengakomodasi siswa cerdas istimewa.

“Secara teori, dalam jangka panjang semua siswa akan diakomodasi dengan sistem SKS dalam kurikulum 2013. Tetapi SKS belum tentu lima tahun lagi akan dilaksanakan. Lantas bagaimana dengan siswa cerdas istimewa tersebut,” tukasnya.

Sebelumnya, di depan peserta sosialisasi Kurikulum 2013, Prof. Achmad Jazidie, menjanjikan pengadaan buku paket kurikulum 2013 semester dua lebih baik. Alasannya, penyedia buku yang dinilai buruk kinerjanya tidak dikontrak lagi dan haknya dialihkan ke penyedia lain jauh lebih baik.

“Sekitar 10 penyedia buku yang buruk sudah kami drop dan dialihkan ke penyedia lain yang lebih baik. Sampai Oktober masih ada proses pengalihan penyedia, sehingga diharapkan pada semester kedua tidak ada masalah,” tuturnya.

Menurut Dirjen, pada pertengahan Oktober 2014 sudah ada penandatangan kontrak pengadaan buku semester kedua. Sekitar 500 kabupaten/kota akan menandatangani kontrak dan 50 kabupaten/kota di antaranya melakukan kontran secara mandiri.(pikiran-rakyat.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.