Kak Seto Prihatin Dongeng Kurang Diminati

oleh -12 views
Kak Seto Prihatin Dongeng Kurang Diminati.(kampus.okezone.com)
Arrief Ramdhani
Kak Seto Prihatin Dongeng Kurang Diminati.(kampus.okezone.com)
Kak Seto Prihatin Dongeng Kurang Diminati.(kampus.okezone.com)

SEBAGAI bangsa yang merupakan bagian dari masyarakat dunia, suka tidak suka kita harus berhadapan dan menguasai teknologi informasi.
Namun generasi bangsa harus dipersiapkan sejak usia dini dengan nilai-nilai kesantunan, etika, kejujuran, kepedulian terhadap sesama, dan nilai-nilai cinta serta bangga sebagai bangsa Indonesia, agar berkarakter nasionalisme yang mampu memfilter dirinya dari pengaruh negatif.

Pemerhati Anak Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto mengatakan, dongeng memiliki unsur budaya dan bangsa, nasionalisme sejarah, dan agama itu sangat penting ditekuni oleh anak. Tapi, masih banyak anak kurang minat terhadap dongeng karena orangtua lupa memperkenalkannya sejak awal.

“Dongeng harus diperkenalkan kepada anak sejak kecil. Hingga saat ini, minat dongeng di Indonesia belum terlalu meningkat dan perlu ditingkatkan dengan cara mengkampanyekan,” ujar Kak Seto, dalam acara konferensi pers Gerakan Nasional Indonesia Mendongeng, di Gedung Pusat Perfilman H Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (16/10/2014).

Kak Seto bercerita, di Jepang saja banyak festival-festival dongeng sampai dirinya diundang. Mereka menyadari bahwa sosial media (gadget) menyimpan banyak mudharat, makanya perlu diimbangi dengan dongeng-dongeng yang disampaikan dengan baik.
“Di era teknologi yang semakin canggih ini membawa anak menjadi kehilangan banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Hal ini sangat berbahaya bagi pertumbuhan anak tanpa pendampingan yang intens dari orangtua,” ucapnya.

Lanjut Kak Seto, banyak anak muda yang kurang minat terhadap dongeng karena anak tersebut menyukai kegiatan-kegiatan yang menggunakan otak kanan. Sedangkan dongeng menggunakan perpaduan antara otak kanan dan kiri, artinya ada unsur entertain dan pendidikan, jika perpaduan tersebut dipadukan akan lebih efektif.

“Ini salah satu cara guru harus bisa merealisasikan dengan pembelajaran yang efektif dan mengasyikkan seperti musik dan humor. Sehingga proses belajar-mengajar akan berjalan dengan kondusif dan penuh semangat,” ungkapnya.(kampus.okezone.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.