Kado Hari Pendidikan Nasional

oleh -3 views
Ilustrasi (makmalpendidikan.net)
Arrief Ramdhani
Ilustrasi (makmalpendidikan.net)
Ilustrasi (makmalpendidikan.net)

PERSIS setahun yang lalu, peringatan Hari Pendidikan Nasional berlangsung dalam suasana semringah. Tema yang diusung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun amat memukau: Bangkitnya Generasi Emas Indonesia.

 

banner 728x90

Yang terlihat paling semringah, tentu saja Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh, tuan rumah acara peringatan Hardiknas 2012 tersebut. Pasalnya, Indonesia dikaruniai potensi sumber daya manusia berupa populasi usia produktif yang jumlahnya luar biasa. Jika dikelola dengan baik, potensi tersebut bisa menjadi bonus demografi yang berharga.

Kita kutip saja sepenggal pidatonya waktu itu: “…Kita harus melakukan investasi besar-besaran dalam bidang pengembangan sumber daya manusia sebagai upaya menyiapkan generasi 2045, yaitu 100 tahun Indonesia merdeka. Oleh karena itu, kita harus menyiapkan akses seluas-luasnya kepada seluruh anak bangsa untuk memasuki dunia pendidikan; mulai dari pendidikan anak usia dini sampai ke perguruan tinggi. Tentu perluasan akses tersebut harus diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan….”

Tapi, pada peringatan Hardiknas kemarin, suasananya berbeda. M Nuh tidak lagi menampilkan diri sebagai pembawa visi besar dunia pendidikan kita. Melalui situs resmi dia menyampaikan “permohonan maaf setulus-tulusnya atas persoalan penyelenggaraan Ujian Nasional tingkat SMA sederajat tahun pelajaran 2012/2013.”

Kita tentu saja bisa memaafkan dengan setulus-tulusnya atas amburadulnya penyelenggaraan UN tersebut. Syaratnya, jadikanlah peringatan Hardiknas 2013 ini sebagai ruang untuk kontemplasi dan autokritik.

Kita tidak hanya prihatin dengan karut-marutnya penyelenggaraan UN. Anggap saja itu kado Hardiknas. Sebab, begitu banyak persoalan lainnya yang menyelimuti dunia pendidikan nasional. Dalam hal kurikulum, misalnya, pemerintah tak ada hentinya melakukan bongkar pasang. Dalam sepuluh tahun terakhir, kurikulum sudah dua kali diganti. Hasilnya jeblok, baik dari aspek mutu pendidikan maupun anggaran.

Tahun ini akan ada kurikulum baru lagi, tapi belum jelas kapan mulai diberlakukan. Dalam pendidikan, perubahan kurikulum memang tidak haram. Yang diharamkan adalah meyakini kurikulum sebagai satu-satunya cara untuk memperbaiki mutu pendidikan. Apalagi dengan mengabaikan peningkatan mutu guru.

Selain itu, pendistribusian guru juga masih timpang. Ada sekolah yang kebanjiran guru, sementara tidak sedikit sekolah yang kekurangan guru.

Yang juga tak kalah memprihatinkan adalah fakta masih ada puluhan ribu bangunan sekolah yang bisa sewaktu-waktu ambruk dan mengancam keselamatan para peserta didik dan gurunya.

Di waktu mendatang, Hardiknas sebaiknya diperingati dengan melakukan kontemplasi semendalam mungkin tentang bagaimana mestinya pendidikan nasional dibangun. Bonus demografi tak boleh jadi bencana.(inilahkoran.com)

 

28 thoughts on “Kado Hari Pendidikan Nasional

  1. Ping-balik: Cornhole Shop
  2. Ping-balik: replica ogmt watch
  3. Ping-balik: best dumps shop
  4. Ping-balik: replica watch
  5. Ping-balik: ftp username
  6. Ping-balik: fake rolex
  7. Ping-balik: cheap wigs
  8. Ping-balik: GettingFitToday.com
  9. Ping-balik: jewelry
  10. Ping-balik: hublot watch straps
  11. Ping-balik: Firearms For Sale
  12. Ping-balik: dark0de market
  13. Ping-balik: block screenshot
  14. Ping-balik: this website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.