, ,

Kabin Sterilisasi Buatan ITB Bisa Sterilkan Masker N95 Bekas Pakai

oleh -14 views
Kabin Sterilisasi Buatan ITB Kabin Pencuci Masker N-95 Buatan ITB era.idKabin Pencuci Masker N-95 Buatan ITB.(era.id)
Arrief Ramdhani

TIM  Laboratorium Energi Terbarukan, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB) yang diketuai Yuli Setyo Indartono mengembangkan kabin sterilisasi untuk masker N95. Kabin sterilisasi tersebut mampu menyeterilkan masker N95 yang telah digunakan oleh tenaga medis.

Alat tersebut bekerja dengan menggunakan teknologi ionisasi udara, penurun kelembapan udara, dan rak sterilisasi masker N95. Adapun, dimensi kabin 1x1x2 m3.

PERKEMBANGAN VIRUS CORONA

Berita Selengkapnya

Selain Yuli, tim yang intensif terlibat dalam pembuatan kabin sterilisasi masker N95, diantaranya Andhita Mustikaningtyas dan Musfirin (Horizon Teknologi), Mukhlis Ali (alumni FTMD ITB yang bekerja di Universitas Nusa Putra), dan Taufik Rahman (mahasiswa bimbingan Mukhlis Ali di Universitas Nusa Putra).

Yuli menuturkan, kabin sterilisasi dibuat dengan tujuan agar masker N95 dapat digunakan kembali, mengingat jumlah pasien virus corona semakin bertambah. Dengan demikian, kebutuhan masker N95 pun semakin meningkat. Namun, di sisi lain, ketersediaan masker N95 bagi tenaga kesehatan terbatas.

Berdasarkan rekomendasi dari Kementerian Kesehatan, sterilisasi masker bisa dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, disimpan di kantong kertas dan dibiarkan selama tiga hingga empat hari. Rekomendasi kedua, dipanaskan sampai 70 derajat Celcius dalam oven. Ketiga, sterilisasi masker bisa dilakukan dengan diberi uap panas.

Sementara, metode yang tidak direkomendasikan untuk sterilisasi masker adalah dengan menggunakan sinar UV, karena bisa merusak lapisan masker N95.

Dari berbagai cara tersebut, tim melihat perlu ada metode sterilisasi yang bisa menghancurkan bakteri dan virus, namun tidak menimbulkan kerusakan pada masker N95. Oleh karena itu, tim peneliti tidak menggunakan sinar UV dan melakukan pemanasan untuk mensterilkan masker, karena khawatir menyebabkan penurunan kualitas masker N95.

“Maka, tim peneliti menggunakan metode ionisasi udara. Ion negatif bisa merusak struktur bakteri dan virus,” ujar Yuli dalam siaran pers yang diterima Pikiran-Rakyat.com, Selasa 21 April 2020.

Dalam kabin juga disediakan dehumidifier untuk menurunkan kelembapan udara. Jika kelembapan udara rendah, maka udara akan menyerap air dari masker sehingga tidak perlu memanaskan masker. Supaya tidak merusak masker, proses sterilisasi pun dilakukan pada temperatur kamar (tidak dipanaskan).

Kabin sterilisasi dibuat kedap udara. Di dalamnya terdapat tiga komponen utama, yaitu alat yang menghasilkan ion udara, kipas kecil, dan alat untuk menurunkan kelembapan udara.

Kabin tersebut juga dipasang pengatur waktu untuk mengatur waktu sterilisasi. Pada spesifikasi alat, selain menghasilkan ion, alat tersebut juga menghasilkan hidrogen peroksida.

Proses sterilisasinya membutuhkan waktu sekitar dua jam. Kemampuan alat ini mendekontaminasi bakteri telah diuji di Laboratorium Mikrobiologi di Sekolah Farmasi ITB oleh Prof Marlia Singgih Wibowo, dan juga diuji oleh Prof. Pingkan Aditiawati di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB.

Hasil pengujian menunjukkan, bahwa kabin mampu mendekontaminasi koloni bakteri Staphylococcus aureus dan E.coli pada permukaan kasa sebanyak 90% selama 90 menit.

Pada Senin 20 April 2020, kabin sterilisasi masker N95 buatan Tim Laboratorium Energi Terbarukan, FTMD ITB diserahkan kepada Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung untuk pengujian lebih lanjut.

Pihak RSHS menyambut baik kabin sterilisasi tersebut. Alat itu akan dipasang dan diuji coba secara langsung di RSHS Bandung. Selain RSHS, ada delapan rumah sakit yang juga telah meminta dikirim kabin sterilisasi.

Yuli mengatakan, selain untuk masker, alat tersebut juga bisa menyeterilkan berbagai Alat Perlindungan Diri yang sifatnya digunakan kembali. Namun untuk saat ini, kabin sterilisasi dirancang untuk masker N95.(pikiran-rakyat.com)