Jumlah Lulusan Vokasi Masih Kurang

Saturday 05 October 2019 , 8:02 AM

Ilustrasi

JUMLAH lulusan pendidikan tinggi vokasi masih kurang dibandingkan dengan kebutuhan lapangan pekerjaan di berbagai bidang industri. Di antaranya tenaga kerja untuk sektor manufaktur, perhotelan dan kemaritiman. Kendati demikian, dalam 5 tahun terakhir, pendaftar ke pendidikan tinggi vokasi terus meningkat.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menuturkan, untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja siap pakai dan profesional, pemerintah akan terus mendorong pendirian pendidikan tinggi vokasi baru. Pasalnya, saat ini, Indonesia masih sangat kekurangan sarjana terapan. Lulusan pendidikan tinggi vokasi akan dibekali sertifikat kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri.

“Pendidikan tinggi vokasi atau politeknik semakin diminati setelah ada S1 terapan atau D4. Berkolaborasi dengan perguruan tinggi asing dan dalam negeri menjadi penting agar lulusan politeknik kompetensinya berdaya saing global. Banyak yang belum lulus D4 tapi sudah diminta industri, sebagian besar politeknik manufaktur. Perhotelan juga. Jadi politeknik ini memang jumlahnya masih sangat terbatas untuk penyiapan SDM yang siap kerja secara profesional,” ujar Nasir dalam Seminar Peran Pendidikan Vokasi Dalam Menciptakan SDM Unggul di Era Revolusi Industri 4.0, di Jakarta, Jumat, 4 Oktober 2019.

Ia menegaskan, penguatan pendidikan tinggi vokasi menjadi program prioritas pemerintah hingga 2024. Menurut dia, pertumbuhan bisnis akan terus terjadi sehingga membutuhkan tenaga kerja yang berkualitas. Sarjana terapan akan sangat dibutuhkan mengingat jenis bisnis masa depan lebih membutuhkan keahlian dibandingkan dengan keunggulan akademik.

“Tidak akan ditanya IPK anda berapa. Tapi kompetensi ada di bidang apa? Bidang perhotelan masih sangat terbatas di beberapa pusat wisata. Permintaannya cukup tinggi. Pertumbuhan bisnis akan memberikan manfaat bagi politeknik seperti Jakarta International Hotel School (JIHS) yang sekarang ganti nama jadi Politeknik Internasional Jakarta,” kata Nasir.

Dalam seminar tersebut Nasir juga meresmikan pendirian Politeknik Internasional Jakarta. Ia berharap politeknik tersebut mampu melahirkan banyak tenaga kerja siap pakai di bidang industri jasa dan perhotelan. “Sekarang sudah ada pergeseran. Dulu banyak kuliah di universitas. Sekarang bergeser ke politeknik, pendaftarnya meningkat terus. Politeknik diberikan sertifikat kompetensi, ini yang jadi nilai lebih sarjana terapan. Ini positioning sangat jelas, lulusan politeknik jangan cemas,” katanya.

Politeknik Internasional Jakarta didirikan oleh Artha Graha Group. “Setelah 25 tahun perjalanan Akademi Pariwisata Jakarta International Hotel School (JIHS) dalam mencetak SDM unggul di bidang perhotelan & pariwisata, dengan 2000 alumni tersebar dilebih dari 100 hotel bintang lima di Indonesia, hari ini berubah bentuk menjadi Politeknik Jakarta Internasional,” kata Direktur Bank Artha Graha Internasional Indra S. Budianto.

Indra menerangkan bahwa Politeknik Jakarta Internasional meluncurkan 3 Program Studi unggulan baru Sarjana Terapan (D4). Yaitu 3 Manajemen Perhotelan, Analis Keuangan & Keamanan Sistem Informasi. Selain itu juga Program existing D3 Perhotelan & D1 Extension Perhotelan khusus bagi karyawan di lingkup industri perhotelan & pariwisata.

Menurut dia, semua prodi ini dipilih secara khusus untuk mendukung industri yang dimiliki oleh Artha Graha Group, di antaranya Hotel Borobudur Jakarta dan Discovery Hotel Resort (DHR), PT. Bank Artha Graha Internasional Tbk (BAGI) serta PT. Artha Telekomindo, PT. Danatel Pratama, PT. Sentra Link Solution dan lainnya.

Indra menambahkan, peran Kemeristekdikti  sangat besar dalam mendukung link and match antara pendidikan vokasi berbentuk Politeknik dan dunia usaha & corporate yang membutuhkan sdm unggul di era revolusi industri 4.0. Artha Graha Group siap menjadi mitra Pemerintah untuk mengembangkan peta jalan (road map) pendidikan vokasi yang mampu menjadi solusi dari persoalan ketenagakerjaan Indonesia saat ini.

“Kami mengapresiasi kesungguhan pemerintah untuk pembenahan SDM Indonesia dengan memberikan insentif bagi pelaku usaha yg mau berinvestasi di sektor pendidikan dan menjadikannya sebagai hal baru strategis dalam Rencana Kerja Pemerintah 2020. Mari bersama menjadikan bonus demografi Indonesia menjadi peluang-peluang besar untuk Nusantara berjaya. SDM Unggul, Masyarakat Sehat & Makmur, Indonesia Maju”, ujar Indra.

Editha Duarte salah satu penggagas Politeknik Jakarta Internasional dan Education Advisor AG Group menuturkan, dengan terbentuknya Politeknik Jakarta Internasional, cita-cita untuk memiliki SDM Indonesia Unggul yang berkualitas & berkarakter kuat dengan semangat nasionalisme yang tinggi untuk berkarya secara domestik dan membawa nama Indonesia di mancanegara bisa tercapai.

“Leadership through service adalah motto dari JIHS, dan akan tetap menjadi core utama Politeknik Jakarta Internasional dalam mencetak sdm unggul & berkarakter kebangsaan yang kuat.  When strong character-based education & industry is a united synergy, sky is the limit” kata Editha.(pikiran-rakyat.com)

Comments are closed.