Ini Cara Panitia SNMPTN Antisipasi Mark Up Nilai

oleh -3 views
Ilustrasi (jabar.tribunnews.com)
Arrief Ramdhani
Ilustrasi (jabar.tribunnews.com)
Ilustrasi (jabar.tribunnews.com)

SALAH satu perhatian dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) via jalur undangan adalah kemungkinan mark up nilai oleh pihak sekolah. Panitia SNMPTN pun punya cara khusus mengantisipasi kemungkinan tersebut.
Menurut Humas Panitia Lokal SNMPTN 2013 Universitas Lampung (Unila) Muhamad Komarudin, M.T., nilai rapor yang dimasukkan kepala sekolah di laman Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) tidak akan begitu saja diterima. Panitia SNMPTN, kata Komarudin, akan menormalisasi nilai-nilai tersebut dengan menggunakan beberapa parameter  dari segi kualitas sekolah dan siswa itu sendiri.

Komarudin menilai, mekanisme pemberian parameter tertentu pada sekolah cukup ampuh dalam mengantisipasi praktik mark up nilai rapor ataupun sekolah yang memiliki boros nilai.

banner 728x90

“Kalaupun nilai rapor siswa mereka besar tetapi sekolah tersebut tidak memiliki track recordberdasarkan parameter tadi, maka nilainya akan dinormalisasi. Otomatis nilainya juga menjadi lebih rendah,” ujar Komarudin, seperti disitat dari laman Unila, Jumat (19/4/2013).

Dia menjelaskan, kualitas sekolah dapat dinilai dari sisi akreditasi. Bobot sekolah berakreditasi A tentu akan berbeda dengan akreditasi lainnya. Bobot akreditasi ini juga akan membedakan perangkingan siswa yang memiliki nilai sama. Jadi, kata Komarudin, siswa di sekolah unggulan tidak akan dirugikan oleh siswa di sekolah yang royal memberikan nilai.

Selain akreditasi, kualitas para alumni juga menjadi parameter baik buruknya kualitas sekolah. Misalnya, sekolah dengan alumni cukup banyak di PTN akan mendapat bobot lebih. Selain secara kuantitas, kualitas para alumni ini akan dipantau melalui perolehan nilai IPK mereka dalam dua hingga empat semester.

Nah, setelah normalisasi nilai ini, barulah dilakukan pemetaan nilai siswa berdasarkan nilai rata-rata baik untuk program IPA  maupun IPS.

“Terkadang program studi tertentu menyaratkan standar nilai yang berbeda untuk mata pelajaran tertentu. Dari sanalah proses perangkingan siswa akan dilakukan berdasarkan kuota yang dibutuhkan program studi tujuan,” imbuh Komarudin.(kampus.okezone.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.