Indonesia dan Korea Selatan Mengembangkan Teknologi Hijau

Monday 26 August 2019 , 7:14 AM

Ilustrasi (www.wima.ac.id)

INDONESIA dan Korea Selatan bekerja sama mengembangkan green technology untuk mengurangi dampak lingkungan yang dihasilkan dari penerapan inovasi di industri. Paradigma green technology sedang dikembangkan di seluruh negara mengingat kemajuan teknologi yang pesat berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan yang semakin parah.

Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ainun Na’im menegaskan, kerja sama tersebut akan berlangsung selama 4 tahun. Penerapan green technologydiharapkan dapat mengurangi polusi udara, pencemaran sungai, dan meminimalisasi produksi sampah. Di Indonesia, 3 hal tersebut sudah menimbulkan dampak besar dan merugikan masyarakat luas.

“Kami berharap ini menjadi inisiatif strategis yang akan mengubah hidup dan masa depan kita. Bukan hanya di Indonesia, namun di planet bumi. Paradigma green ke depan tidak saja soal greentechnology. Namun juga green living dan green culture,” ujar Ainun dalam acara peluncuran Green Technology Partnership Initiative (GTPI) Indonesia-Korea Selatan di Auditorium BPPT, Jakarta, Kamis 22 Agustus 2019.

GTPI merupakan inisiatif kerja sama antara BPPT dan Green Technology Center (GTC) Korea Selatan. GTPI didukung Ministry of Science and ICT serta National Technology Fund (NTF) Korea Selatan. Ainun menegaskan, GTPI membawa visi sebagai platformkerja sama iptek untuk pembangunan di Indonesia melalui penerapan konsep circular economy.

GTPI juga menjadi platform untuk menghubungkan dengan mitra lain dan memberikan peluang lebih lanjut bagi kerja sama yang berkaitan dengan green technology. Menurut Ainun, greentechnologi mengkaji dampak, inovasi teknologi, pengembangan dan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah. “Sehingga pengembangan model bisnis berkelanjutan serta percepatan kerja sama global bisa terwujud,” katanya.

Ainun menjelaskan, dalam menjalani era Revolusi Industri 4.0, kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dari berbagai produk teknologi. Di sisi lain, teknologi berpotensi menjadi masalah karena menghasilkan sampah, polusi udara, pencemaran sungai, dan lain lain.

“Sebagai contoh, pemerintah saat ini sedang menjalankan program revitalisasi Sungai Ciliwung dan berharap GTPI bisa berkontribusi dalam program ini,” katanya.

Kepala Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik Kemenristekdikti Nada Marsudi menambahkan, green partnership tersebut menguntungkan kedua pihak. GTPI akan berkerja dengan mangacu pada rencana induk riset nasional. “Saya berharap kerja sama dalam payung GTPI ikut memperkuat kerja sama RI – ROK serta ASEAN – ROK dengan mengacu kepada Rencana Induk Riset Nasional”, ujarnya.(pikiran-rakyat.com)

Comments are closed.