Harapan Pelajar, Kurikulum 2013 Dimatangkan Dulu

oleh -9 views
Ilustrasi
Arrief Ramdhani
Ilustrasi
Ilustrasi

PELAJAR Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah mempunyai harapan besar terhadap kurikulum 2013 kepada pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang akan dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI pada tanggal 20 Oktober 2014 mendatang.

“Selamat Pak Jokowi telah menjadi pemimpin untuk negeri tercinta ini. Pak Jokowi, tolong matangkan dulu untuk Kurikulum 2013, baik pengajaran untuk para siswa ataupun buku siswa. Terimakasih,” kata Anggita siswa kelas VIII SMPN 5 Purwokerto, Jumat (17/10/2014).

Harapan siswa perempuan tersebut tertulis pada selembar kertas, bersebelahan dengan gambar wajah Jokowi yang dia lukis.

Sebanyak 54 siswa kelas VII dan VIII Jumat mendapat tugas menggambar wajah Jokowi dan Jusuf Kalla dari guru Seni dan Budaya, Sucipto Pratomo.

Selain menggambar wajah Presiden dan Wakil Presiden RI untuk periode 2014-2019 tersebut diberi kesempatan untuk mengungkapkan pesan dan harapan kepada pasangan Jokowi – Jusuf Kalla.

Menurut Anggita, Kurikulum 2013 membuat siswa kerepotan, hingga menjelang ujian setengah semester. Siswa belum mendapat buku panduan. Mereka diminta untuk mencari di internet lalu dicetak secara mandiri.

“Bagi siswa di kota mungkin lebih mudah, namun jika rumahnya di desa, jelas akan repot. Selain itu tidak semua siswa dari keluarga mampu, sebab kita harus membayar biaya mencetak atau menfotokopi. Jumlahnya sampai ratusan lembar dari 11 mata pelajaran,” jelasnya.

Oleh karena itu, dia menaruh harapan besar Presiden dan Wakil Presiden segera menuntaskan program kurikulum 2013.

Sucipto Pratomo guru SMP Negeri 5 Purwokerto, menjelaskan meski kurikulum 2013 sudah dilaksanakan, namun buku paket 11 mata pelajaran belum dikeluarkan oleh Kantor Pendidikan hingga sampai ke sekolah sekolah.

Sehingga saat pelajaran guru dan siswa mengalami kesulitan dalam proses belajar mengajar. Guru dan siswa terpaksa harus mengunduh materi ajar dari internet, kemudian baru difotokopi dengan biaya ditanggung oleh siswa siswa dan guru.

“Selain itu para guru juga belum siap untuk membawakan materi kurikulum yang baru. Sebab belum semua guru mendapatkan pembekalan. Dari 11 orang paling yang sudah menerima pembekalan baru 2-3 orang guru,” jelasnya.(pikiran-rakyat.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.