Glopoli, Cara Asyik Belajar Geografi dengan Monopoli

oleh -2 views
Ilustrasi : China Daily
Arrief Ramdhani
Ilustrasi : China Daily
Ilustrasi : China Daily

SIAPA tidak kenal bola dunia alias globe? Alat bantu yang digunakan dalam memahami letak geografis berbagai negara di dunia itu kini dikemas lebih menarik oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Tujuannya tidak lain untuk membantu para siswa belajar dengan cara menyenangkan.

Di tangan Andhanu Surya Ismail, Fifi Alfiana Rosyidah, Muhammad Faizal Lihawa, Silvia Roshita Dewi, dan Muhammad Lutfi Ramadhani, globe disulap menjadi permainan Glopoli yang menyenangkan bagi para siswa SD Sawohan 2 Kepetingan, Sidoarjo. Permainan monopoli empat dimensi berbentuk globe itu dapat dibuka di bagian tengahnya.

Andhanu menyebut, bentuk tersebut sengaja dirancang agar mampu menjadi ‘gula’ bagi anak-anak yang memainkannya. ”Selain itu, bentuk globe juga mengajarkan mereka mengenai bentuk bumi yang sesungguhnya,” ungkap Andhanu, seperti dilansir oleh Okezone, Jumat (26/7/2013).

Sedikit berbeda dengan monopoli biasa, permainan itu tidak mengajarkan prinsip ekonomi melainkan memperkenalkan macam-macam negara beserta ciri khasnya. Dalam satu kali permainan, sebanyak lima atau enam anak bisa ikut bermain.

“Setiap kali singgah pada sebuah negara, anak-anak itu harus membaca keterangan mengenai negara yang disinggahi agar bisa didengarkan teman yang lain,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Andhanu, yang membedakan monopoli dan Glopoli adalah pada peraturan untuk dana umum dan kesempatan. Pada Glopoli, kartu dana umum dimodifikasi sedemikian rupa sehingga berbentuk pertanyaan-pertanyaan tentang suatu negara.

“Bila seorang anak tidak mampu menjawab pertanyaan yang diberikan, ia akan dikenakan denda dengan besaran tertentu. Untuk kartu kesempatan lebih berisi reward dan punishment. Tapi juga tidak jauh-jauh dari ciri negara-negara,” paparnya.

Dia mengklaim, Glopoli berhasil meningkatkan pemahaman siswa mengenai negara-negara di dunia. Dia mencatat, setidaknya terjadi peningkatan pemahaman sebanyak 40 persen akibat permaian ini. ”Bila sebelum permainan anak-anak tidak tahu apa-apa maka setelah permaianan mereka bisa membedakan negara,” tutup mahasiswa Jurusan Teknik Material dan Metalurgi itu.(kampus.okezone.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.