Gerakan Literasi Nasional Dorong Masyarakat Berpikir Kritis

Saturday 04 May 2019 , 8:16 AM

Kegiatan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai (USAID Prioritas)

KEMENTERIAN  Pendidikan dan Kebudayaan mengajak semua pihak untuk terlibat dalam program Gerakan Literasi Nasional (GLN). Terutama untuk membantu dalam menyediakan dan mendistribusikan buku bacaan berkualitas. Pasalnya, hingga saat ini, kemampuan sebagian besar masyarakat untuk mampu memahami buku yang membutuhkan penalaran tinggi masih rendah.

Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud Dadang Sunendar menuturkan, berdasarkan kajian dari World Economy Forum 2017, kualitas bahan bacaan akan sangat menentukan kemajuan suatu bangsa. Menurut dia, dari kajian yang dirilis forum tersebut,  masyarakat Indonesia ditengarai mampu membaca lebih lama dibandingkan dengan warga Jepang dan Australia. Hal tersebut dapat menjadi modal yang cukup untuk mengembangkan GLN ke arah yang lebih efektif dan masif.

“Tapi kualitas bahan bacaannya yang belum baik. Kita harus akui bahwa tingkat literasi di sebagian masyarakat belum tinggi, terutama di daerah terluar, terdepan dan tertinggal (3T). Oleh karena itu melalui momentum Hardiknas ini kami ingin mengajak masyarakat untuk gemar membaca buku-buku yang memiliki kompleksitas wacana yang lebih bakk. Karena fondasi utama dari sebuah pendidikan adalah penguasaan literasi yang baik. Ketika pendidikannya bagus, kami yakin sebuah negara akan maju,” ujar Dadang saat membuka peringatan Hari Pendidikan Nasional di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Selasa, 30 April 2019.

Ia menjelaskan, dalam dunia literasi, setidaknya ada 6 kategori yang haru dikuasai masyarakat maju. Yakni, literasi membaca berpenalaran tinggi, literasi digital, literasi finansial, literasi numerik atau menghitung, literasi ilmu pengetahuan dan literasi kewargaan. Khusus literasi digital, masyarakat Indonesia menjadi yang paling masif dalam penggunaan internet dibandingkan negara lain.

“Literasi digital masyarakat Indonesia juga mulai bagus. Kalau mengecek di Kominfo, tahun lalu saja ada 135 juta pengguna internet. Artinya lebih dari setengah penduduk Indonesia sudah menggunakan internet. Nah, jumlah pengguna internet yang tinggi ini seharusnya sejajar dengan tingkat literasi digital kita. Yang kedua, literasi digital juga sangat efektif untuk menangkal hoaks,” kata Dadang.

Ia menegaskan, Indonesia akan menjadi negara maju jika pemerintah pusat, daerah, dan pihak swasta bekerja sama dalam penyediaan bahan bacaan berkualitas. Baik bacaan buku secara fisik, maupun materi-materi bacaan yang disebar di internet. Menurut dia, 130 juta pengguna internet akan memberi dampak positif bagi Indonesia jika mereka menerima asupan ilmu dan informasi yanh berkualitas.

“Mari kita tingkatkan kualitas bacaan, semua pihak harus saling membantu. Pemerintah pusat, daerah dan lembaga swasta. Menyediakan bahan bacaan yang bagus, yang menumbuhkan nalar kritis. Bahan bacaan baik buku fiksi dan nonfiksi yang berkualitas. Teks kritis itu harus ditingkatkan, jangan terus-terusan membaca si kancil nyolong sayuran. Wacananya yang lebih kompleks. Karena kalau semakin kompleks wacana dari sebuah buku saya yakin tingkat kemahiran bernalar kita juga semakin baik,” ujarnya.

Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur Muhammad Irfan menyatakan, penyediaan buki bacaan di NTT saat ini hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah pusat. Belum ada pihak swasta yang mau terlibat. Kendati demikian, pemerintah provinsi dan daerah di NTT terus berusaha membangun ketersediaan internet hingga ke daerah terjauh dan terpencil.

“Kami juga punya program Cakrawala. Itu turunan dari GLN yang diinginkan Kemendikbud. Cakrawala ini tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa, tapi juga mempelajari dan melestarikan kebudayaan lokal, terutama bahasa. Ketersediaan buku di NTT memang sulit, karena di sini belum ada percetakan, tak ada IKAPI. Penerbit juga gak ada. Jadi untuk buku bacaan benar-benar hanya mengandalkan yang diterbitkan pemerintah pusat,” ujar Irfan.(pikiran-rakyat.com)

Comments are closed.