Gerakan Literasi Jangan Sebatas Gaya

Thursday 22 September 2016 , 5:38 AM
KEPALA Dinas Pendidikan Kota Bandung Elih Setiapermana memberikan sambutan sekaligus "membakar" motivasi guru dan siswa untuk membaca dan menulis ide-idenya dalam "Pekan Lomba Literasi" di SMAN 20 Bandung, Rabu (21/9/2016).(pikiran-rakyat.com)

KEPALA Dinas Pendidikan Kota Bandung Elih Setiapermana memberikan sambutan sekaligus “membakar” motivasi guru dan siswa untuk membaca dan menulis ide-idenya dalam “Pekan Lomba Literasi” di SMAN 20 Bandung, Rabu (21/9/2016).(pikiran-rakyat.com)

GERAKAN literasi yang kini mewabah di sekolah-sekolah mulai dari SD sampai SMA jangan hanya sebatas gaya. Gerakan tersebut harus memiliki tujuan dan target yang jelas, bukan sekadar seremonial saja.

“Gerakan literasi sekolah bukan sebatas gaya, tapi kita mendidik dan melatih siswa untuk membudayakan membaca, menulis, dan mengomunikasikan gagasan,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Elih Setiapermana dalam “Pekan Lomba Literasi”, di SMAN 20 Bandung, Rabu 21 September 2016.

Elih menyatakan, budaya membaca masih kurang di antara para guru maupun siswa karena semuanya terfokus kepada pelajaran. “Ada anggapan kalau membaca novel, kisah atau cerita pendek, bukan lah belajar karena belajar dimaknai membaca buku pelajaran. Anggapan ini yang harus diluruskan sebab membaca novel atau buku-buku umum juga belajar,” ujarnya.

Dia juga menyinggung kemampuan rendah para siswa ketika soal-soal ujian dijadikan narasi dalam bentuk paragraf. “Coba soal matematika dibuat narasi dua sampai tiga paragraf rata-rata siswa kurang bisa menjawabnya. Hal ini menandakan literasi belum menjadi budaya di kalangan siswa,” katanya.

Kemampuan literasi, kata Elih, ibarat cangkul bagi para petani karena literasi adalah alat mendasar bagi siswa dalam belajar. “Literasi ini harus dimulai yang bisa saja diawali dari terpaksa membaca, lalu setelah membaca sudah baik diarahkan untuk menyalurkan ide-idenya dalam bentuk tulisan,” katanya.

Comments are closed.