Gathotkaca UGM Kembali Sabet Juara di Komurindo 2013

oleh -10 views
Foto : Tim Gadjah Mada Aerospace/UGM
Arrief Ramdhani
Foto : Tim Gadjah Mada Aerospace/UGM
Foto : Tim Gadjah Mada Aerospace/UGM

TIM Roket Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang dikenal dengan Gadjah Mada Aerospace Team kembali menuai prestasi dalam Kompetisi Muatan dan Roket Indonesia (Komurindo). Pada Komurindo 2013, tim UGM meraih tempat kedua setelah tim Ganesha dari Institut Teknologi Bandung (ITB)
Selama tiga tahun berturut-turut, tim Gadjah Mada Aerospace selalu pulang dengan membawa juara dalam Komurindo. Sebelumnya, mereka berhasil menyandang gelar Desain Terbaik pada Komurindo 2011 dan 2012.

Pada kompetisi kali ini, UGM mengirimkan tiga tim, yaitu Gathotkaca untuk kategori muatan roket, serta Antasena dan Antareja dalam kategori roket EDF. Kategori roket EDF merupakan kategori yang baru diadakan pada tahun ini.

Digawangi Ahmad Ataka Awwalur Rizqi (Teknik Elektro), Ahmad Harist Jualianto (Elektronika dan Instrumentasi), Luqman Muhardian (Teknik Mesin), dan dosen pembimbing Eka Firmansyah (Teknik Elektro), Gathotkaca berhasil meraih juara kedua setelah melewati Uji Fungsional serta Uji Peluncuran.

“Meskipun pada saat Uji Fungsional sempat mengalami kendala karena beberapa error, tim Gathotkaca sukses saat melaksanakan Uji Peluncuran,” ungkap Ataka, seperti dinukil dari laman UGM, Minggu (9/6/2013).

Ataka menjelaskan, muatan roket yang dirancang Tim Gathotkaca mampu mengirimkan data dengan baik tanpa terputus selama proses peluncuran roket, separasi, hingga pendaratan dengan parasut. Muatan roket Tim Gathotkaca juga menjalankan fungsi homing (kembali ke tempat peluncuran) dengan memanfaatkan data GPS dan aktuator berupa motor servo untuk pengendali gerakan parasut.

Dalam kategori muatan roket, peserta harus membuat muatan roket yang akan diintegrasikan dengan Roket Uji Muatan yang disediakan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Muatan tersebut harus mampu menjalankan berbagai fungsi, di antaranya mengirim data pergerakan roket, mengambil gambar RGB 200×200 piksel, serta kembali ke posisi peluncuran.

“Sedangkan pada kategori roket EDF, perserta harus mampu membuat roket berserta launchernya untuk diterbangkan setinggi mungkin dengan mempertahankan sudut elevasi 80 derajat,” jelasnya.(kampus.okezone.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.