‘Games’ dan Media Sosial Sebabkan Konsentrasi Anak Menurun?

oleh -3 views
ilustrasi
ilustrasi

PENGARUH  media sosial, games consoles dan telepon seluler pada siswa dinilai telah menjadi tantangan terbesar bagi dunia pendidikan modern di Inggris. Chairman The Society of Heads, David Boddy, seperti dikutip Telegraph, mengatakan negara-negara sedang dicengkeram oleh “national attention deficit syndrome” atau sindrom menurunnya konsentrasi karena anak-anak menghabiskan banyak waktu pada hiburan-hiburan di depan layar.

Dia memperingatkan bahwa durasi kemampuan anak-anak untuk berkonsentrasi menurun. Penurunan ini didorong pula oleh masalah dalam keluarga, misalnya anak-anak dengan masalah orangtua yang bercerai terbuang banyak dalam hiburan di depan komputer atau seluler.

Salah satu kepala sekolah di Ashford, Boddy, juga mengklaim bahwa para muridnya yang menghabiskan banyak waktu untuk berbicara dengan teman-teman di Facebook kehilangan kemampuan berbicara dengan fokus.

Boddy mengatakan banyak anak berusaha keras untuk bisa bercakap-cakap dengan teman mereka karena pengaruh situs jejaring sosial.

“Anak-anak berpikir mereka memiliki teman ketika sedang melihat Facebook. Namun, mereka kehilangan kemampuan berbicara dengan fokus, kehilangan kemampuan untuk merespon kebutuhan tertentu dari orang lain karena mereka tidak sadar kebutuhan yang sebenarnya (di luar sana),” tambahnya kemudian.

Sekolah harus bergerak

Dalam konferensi tahunan asosiasi kepala sekolah, Boddy bertekad menghimpun perhatian dari sejumlah sekolah swasta untuk fokus pada masalah konsentrasi generasi muda. Menurutnya, sekolah harus lebih fokus dalam pengembangan kreativitas dan kesadaran emosional siswanya, tidak semata-mata pada hasil ujian saja.

Dia mengatakan sekolah akhirnya perlu memiliki kebebasan untuk memerangi pengaruh teknologi moden dan perpecahan keluarga.

“Setiap guru mengetahui bahwa krisis sesungguhnya dalam dunia pendidikan belakangan ini adalah ketidakmampuan anak untuk berkonsentrasi lebih lama. Ada sindrom menurunnya konsentrasi dan perhatian secara nasional dan ini tidak hanya terjadi pada anak-anak yang memang sakit. Kita perlu mencari tahu alasannya,” tutur Boddy.

Untuk itu, Boddy kembali menegaskan bahwa sekolah tak bisa hanya fokus pada persiapan ujian semata. Sekolah harus berpikir panjang untuk masa depan anak yang dididik 20 sampai 30 tahun mendatang.

“Apakah bagian yang telah kita lakukan hanya untuk mencapai bahwa kesuksesan akademis adalah ukuran kemampuan manusia? Apakah definisi sekolah yang baik adalah sekadar naik peringkat dan defisini murid yang pintar hanyalah yang meraih nilai A*?” tanyanya retoris.(KOMPAS.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.